Banjir Balikpapan Belum Tuntas, Proyek Bendali dan Saluran Dikebut
Balikpapan Terganjal Dana, Pemkot Harap Dukungan Pusat
NUSSA.CO, BALIKPAPAN – DAS Ampal dan DAS Kelandasan Kecil masih menjadi sumber utama banjir di Balikpapan. Dua aliran sungai yang melintas di kawasan padat penduduk itu membuat persoalan genangan belum juga tuntas meski pemerintah kota terus menggelontorkan berbagai program penanggulangan.
Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase DPU Balikpapan, Jen Supriyanto, menyebut DAS Ampal—dikenal juga sebagai Kelandasan Besar—sebagai titik paling dominan. “Alirannya dari Pasar Segar, Zurich, sampai BSB. Hampir setiap kali hujan deras, kawasan ini memicu banjir. Sedangkan DAS Kelandasan Kecil membelah pusat kota, dari Antasari hingga Gunung Sari. Inilah dua titik kritis yang masih jadi pekerjaan rumah besar bagi kita,” tegasnya.
Untuk mereduksi risiko banjir, pemerintah kota kini menaruh harapan pada proyek Bendali Ampal Hulu. Lahan seluas 9,4 hektare di belakang Pasar Segar sudah berhasil dibebaskan dengan alokasi dana Rp100 miliar, meski baru Rp47 miliar yang terserap. Bendali ini ditargetkan mampu menampung hingga 160 ribu meter kubik air dan mengurangi 40 persen debit banjir di kawasan sekitarnya.
Namun, pembangunan fisik bendali masih terbentur dana. Biaya konstruksi yang diperkirakan mencapai Rp80 miliar berdasarkan kajian 2017 hingga kini belum tersedia. “Kami berharap ada dukungan dari APBN lewat Balai Besar Wilayah Sungai (BWS) atau bantuan APBD provinsi. Sementara ini, pengerukan awal dilakukan dengan melibatkan TNI lewat kerja bakti,” jelas Jen.
Deretan Proyek Drainase
Selain bendali, sejumlah proyek drainase tengah dikebut di berbagai titik kota:
- Pelebaran saluran di Jalan Beler menuju inlet Balikpapan Baru.
- Pembangunan saluran 200 meter di depan Kantor Capil Inhutani senilai Rp10 miliar.
- Perbaikan saluran Jalan Hasanuddin dan Jalan Atorik (Rp5 miliar).
- Normalisasi saluran Yos Sudarso (Pelabuhan) agar tak lagi tergenang.
- Pembuatan saluran sudetan di Jalan Sudirman depan Kantor Pos menuju laut.
Di sisi lain, Pemkot juga melakukan revitalisasi bendali berskala kecil, seperti Bendali Boulevard Balikpapan Baru dan Bendali Gang Kantil. “Kontrak mayoritas proyek ini selesai 31 Agustus 2025, termasuk sudetan Sumber Gel–Ampal Sari,” tambah Jen.
Meski deretan proyek berjalan, keterbatasan anggaran tetap menjadi kendala utama. Dinas Pekerjaan Umum tidak bisa mengalokasikan seluruh dana hanya untuk banjir karena ada kebutuhan lain yang juga harus dibiayai.
“Kalau ditanya total anggaran khusus banjir, kami tidak bisa menyebut angka pasti. Tapi jelas banjir adalah prioritas. Tanpa dukungan APBN dan APBD provinsi, penanganannya akan sulit dipercepat,” pungkasnya.
Dengan tantangan lahan, biaya besar, serta keterbatasan fiskal, penanganan banjir di Balikpapan bukanlah pekerjaan jangka pendek. Namun, keberhasilan proyek Bendali Ampal Hulu dan revitalisasi saluran kota akan menjadi langkah penting menuju kota yang lebih aman dari genangan. (Adv/DiskominfoBpp)
Tinggalkan Balasan