Loadingtea

NUSSA.CO, BALIKPAPAN — Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 tak sekadar ditandai dengan upacara seremonial di halaman Balai Kota Balikpapan. Pada Jumat pagi (2/5/2025), kota ini menandai langkah bersejarah dalam pembangunan karakter generasi muda melalui peluncuran sebuah buku anak, “Aku Cinta Kota Balikpapan” — buah karya dari Bunda PAUD Balikpapan, Hj. Nurlena Rahmad Mas’ud, SE.

Di tengah riuh semangat para pelajar dan pendidik, Wali Kota Balikpapan, H. Rahmad Mas’ud, menyampaikan bahwa buku ini bukan sekadar koleksi cerita anak biasa. Ia menyebutnya sebagai “media benih cinta tanah kelahiran yang ditanam sejak usia dini.” Dengan narasi sederhana dan ilustrasi cerah, buku ini mengajak anak-anak mengenal kotanya bukan dari buku pelajaran semata, melainkan dari sudut pandang yang menyenangkan dan membumi.

“Saya menyambut baik hadirnya buku ini. Semoga bukan hanya menjadi bacaan yang menyenangkan, tapi juga jadi penguat identitas anak-anak Balikpapan terhadap kotanya sendiri,” ujar Rahmad Mas’ud dalam sambutannya.

Buku tersebut memuat kisah-kisah pendek yang menyoroti keunikan Balikpapan — dari keindahan alam pesisir hingga kekayaan budaya masyarakatnya. Hj. Nurlena menegaskan bahwa pendekatan edukasi berbasis lokal seperti ini penting untuk membangun kebanggaan terhadap tempat tinggal mereka.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal pahlawan dari luar daerah, tapi juga mencintai kampung halamannya dengan segala nilai yang dimilikinya,” ungkapnya.

Dalam simbolisasi peluncuran, balon udara warna-warni dilepaskan ke langit Balikpapan, menggambarkan harapan agar literasi dan cinta lingkungan tumbuh tinggi bersama generasi masa depan.

Buku ini secara simbolis diserahkan kepada sejumlah PAUD, TK, dan lembaga pendidikan anak usia dini sebagai bahan ajar yang menyenangkan dan edukatif. Pemerintah kota berharap, semangat membangun kecintaan terhadap kota ini bisa menjadi fondasi dalam membentuk generasi muda yang sadar jati diri dan siap menjaga keberagaman serta lingkungan kotanya.

Hardiknas tahun ini pun ditutup dengan satu pesan kunci: pendidikan tak hanya soal kurikulum, tapi juga tentang membentuk karakter dan kebanggaan terhadap akar budaya. (Adv/DiskominfoBpp)