Loadingtea

NUSSA.CO, PALU – Komitmen Pemerintah Kabupaten Tolitoli dalam mendorong transformasi ekonomi digital membuahkan hasil manis. Di bawah kepemimpinan Bupati Hi. Amran Hi. Yahya dan Wakil Bupati Moh. Besar Bantilan, Tolitoli secara resmi dinobatkan sebagai daerah dengan tingkat transaksi digital tertinggi kedua di Provinsi Sulawesi Tengah. Prestasi ini dikukuhkan melalui penghargaan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia perwakilan Sulawesi Tengah dalam ajang bergengsi Anugerah Inklusi Keuangan Daerah (AIKD) Tahun 2025 yang digelar di Palu, (13/11/2025).

Penghargaan ini diberikan atas keberhasilan Tolitoli dalam mengintegrasikan layanan pembayaran digital ke dalam sendi-sendi ekonomi masyarakat. Penggunaan instrumen seperti QRIS, E-Wallet (OVO, DANA, GoPay, ShopeePay), hingga E-Money telah menjadi standar baru dalam transaksi bisnis di wilayah berjuluk Kota Cengkeh tersebut. Wakil Bupati Tolitoli, Moh. Besar Bantilan, yang menerima penghargaan tersebut menyampaikan bahwa capaian ini adalah bukti nyata bahwa masyarakat Tolitoli telah melek teknologi keuangan.

“Transaksi digital saat ini telah menjadi tren yang memperlancar dan memudahkan urusan bisnis. Ada sinergi yang saling mendukung antara penjual dan konsumen, sehingga berdampak langsung terhadap percepatan perputaran ekonomi di wilayah Kabupaten Tolitoli,” ungkap Wabup yang akrab disapa Esar ini.

Keberhasilan menempati posisi runner-up se-Sulawesi Tengah ini tidak lepas dari kerja keras Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) serta kolaborasi dengan sektor perbankan dan pihak swasta. Moh. Besar Bantilan secara khusus memberikan apresiasi kepada para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi garda terdepan dalam mengadopsi sistem pembayaran non-tunai. “Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada sekretariat TPAKD, perbankan, dinas terkait, pihak swasta, dan terutama para pelaku UMKM. Kalian adalah aktor utama yang membantu meningkatkan denyut nadi ekonomi di daerah yang kita cintai ini,” tambahnya.

Meski mencatatkan pertumbuhan yang signifikan, Pemerintah Daerah tetap mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada terhadap keamanan digital. Transformasi ekonomi digital harus dibarengi dengan literasi keuangan yang baik agar tidak disalahgunakan. “Gunakanlah perkembangan ekonomi digital ini untuk hal-hal yang positif dan produktif. Jangan digunakan untuk hal-hal negatif yang justru dapat menghambat perputaran ekonomi kita,” tegas Moh. Besar Bantilan menutup keterangannya.

Dengan diterimanya penghargaan AIKD 2025 ini, Tolitoli semakin memperkuat posisinya sebagai daerah yang adaptif terhadap perubahan zaman. Digitalisasi transaksi diharapkan dapat menekan kebocoran ekonomi, meningkatkan transparansi keuangan, dan pada akhirnya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta kesejahteraan masyarakat secara merata. (adv)