Heboh Tsunami di Medsos, BPBD : Isu Hoax
Abdullah Haruna : Informasi Akurat BMKG dan BPBD
NUSSA.CO, TOLITOLI – Heboh isu bencana tsunami pasca rentetan gempa yang mengguncang Tolitoli sejak Sabtu (28/2) lalu, dan ramai di media sosial, ditanggapi serius Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tolitoli. Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Tolitoli Abdullah Haruna menegaskan, bahwa isu tsunami di medsos itu merupakan bagian dari penyebaran informasi yang salah dan tidak bisa dipertanggungjawabkan, data maupun akurasinya sangat tidak tepat.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi BMKG Sultan Bantilan Tolitoli, bahwa sumber gempa bukan berasal dari zona Megathrust, melainkan aktivitas sesar lokal baru di daratan sebelah timur Tolitoli. Dan itu tidak berpotensi terjadinya tsunami, karena skalanya kecil,” papar Kalak, Selasa (03/03/2026).
Ia juga menyayangkan adanya warga yang berupaya untuk ikut ikutan menyebarkan info yang tidak valid alias hoax, sehingga menyebabkan beberapa warga khususnya di Kecamatan Galang seperti di Desa Bajugan, Lalos, Sabang, Tende dan sebagian di Kecamatan Tolitoli Utara menjadi panik, usai mendapatkan informasi tersebut.
“Karena itu, kami terus mengingatkan warga baik bertemu langsung, maupun melalui imbauan di sejumlah tempat umum dan fasilitas ibadah, agar tidak panik dan terpancing isu hoax. Kami BPBD akan senantiasa siaga melakukan antisipasi dini, mengabarkan perkembangan potensi bencana dan upaya maksimal jika ada potensi dan dampak bencana,” tegasnya.
Terpisah, Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Sultan Bantilan Tolitoli, Wahyu Guru Imantoro mengungkapkan hal yang sama, bahwa sumber gempa memang bukan berasal dari zona Megathrust, namun hanya aktivitas sesar local.
“Ini adalah sesar yang sebelumnya belum teridentifikasi. Karena pusatnya di darat dengan magnitudo di bawah 7,0, kami pastikan tidak ada potensi tsunami,” ujar Wahyu.
Hingga Selasa pagi, tercatat 37 kali gempa susulan dengan tren kekuatan yang terus melemah. BMKG meminta warga tetap tenang namun waspada, mengingat karakter sesar baru ini masih memerlukan penelitian lebih mendalam.
Wahyu juga menegaskan, sampai detik ini belum ada teknologi di dunia yang mampu memprediksi kapan tepatnya gempa akan terjadi. Namun BMKG menyayangkan beredarnya isu yang meresahkan warga di tengah situasi pemulihan pasca-gempa Magnitudo 5,6 Februari lalu. Warga diminta hanya merujuk pada kanal resmi BMKG atau BPBD untuk mendapatkan informasi akurat. (ham)
Tinggalkan Balasan