Loadingtea

NUSSA.CO, DONGGALA – Pemerintah Kabupaten Donggala mulai menggeser arah kebijakan sektor pertanian dari sekadar produksi menuju penguatan hilirisasi berbasis desa. Langkah ini ditegaskan langsung oleh Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, yang menilai selama ini keuntungan terbesar justru dinikmati pihak luar karena hasil pertanian daerah dijual dalam bentuk mentah.

Pernyataan tersebut disampaikan Vera saat memimpin Gerakan Panen Raya Padi Sawah di Desa Siboang, Kecamatan Sojol, Rabu (15/04/2026). Ia menekankan pentingnya menghentikan pola lama di mana petani hanya menjadi pemasok bahan baku tanpa memperoleh nilai tambah yang layak.

“Selama ini hasil pertanian kita keluar dalam bentuk mentah, lalu kembali lagi sebagai produk jadi dengan harga jauh lebih tinggi. Ini yang harus kita ubah,” tegasnya.

Menurut Vera, penguatan hilirisasi di tingkat desa merupakan kunci untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan pengolahan pascapanen yang lebih maksimal, petani tidak hanya menjual gabah, tetapi bisa menghasilkan produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

Ia menilai Kecamatan Sojol memiliki posisi strategis sebagai salah satu lumbung pangan di Donggala. Desa Siboang sendiri mencatat luas lahan sawah mencapai 753,8 hektare dengan produktivitas rata-rata empat hingga lima ton per hektare.

Secara keseluruhan, luas sawah di Kecamatan Sojol mencapai 2.633,49 hektare. Pada April 2026, sekitar 1.467 hektare di antaranya memasuki masa panen dengan estimasi produksi mencapai 2.445 ton beras. Angka ini dinilai cukup besar untuk menjadi basis pengembangan hilirisasi pangan di tingkat lokal.

Namun demikian, Vera tidak menutup mata terhadap sejumlah persoalan mendasar yang masih membelit sektor pertanian di Donggala. Di antaranya adalah penyusutan lahan produktif, keterbatasan sarana produksi, hingga distribusi pupuk bersubsidi yang belum merata.

Pemerintah daerah, lanjutnya, akan memperkuat perlindungan lahan pertanian berkelanjutan, membenahi sistem distribusi pupuk, serta meningkatkan dukungan alat dan mesin pertanian. Selain itu, pengembangan unit pengolahan hasil pertanian di tingkat desa akan menjadi prioritas ke depan.

“Kita tidak ingin petani hanya bertahan hidup. Mereka harus naik kelas dan merasakan kesejahteraan dari hasil kerja mereka sendiri,” ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan konkret, dalam kegiatan tersebut Bupati Donggala juga menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian berupa tiga unit traktor tangan jenis Maxibimo kepada kelompok tani di Desa Siboang.

Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mempercepat transformasi sektor pertanian Donggala menuju sistem yang lebih mandiri, bernilai tambah, dan berkelanjutan. (*/Adv)