Puskesmas Gunung Sari Ulu “Overload”, Warga Desak Relokasi Segera Direalisasikan
NUSSA.CO, BALIKPAPAN – Tekanan warga terhadap kondisi layanan kesehatan di Kelurahan Gunung Sari Ulu kian menguat. Puskesmas setempat dinilai sudah tidak lagi mampu menampung kebutuhan masyarakat yang terus meningkat, seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas kawasan.
Persoalan ini mencuat dalam kegiatan reses anggota DPRD Balikpapan, Iim, yang digelar di halaman Kantor Kelurahan Gunung Sari Ulu, Rabu (29/4/2026). Warga secara terbuka menyampaikan kondisi riil di lapangan yang dinilai semakin mendesak untuk segera ditangani.
Salah satu warga, Arwan, mengungkapkan bahwa keterbatasan fasilitas menjadi persoalan utama. Ia menyoroti sempitnya area parkir hingga kapasitas bangunan yang sudah tidak sebanding dengan jumlah pasien yang datang setiap hari.
“Kalau pasien lagi ramai, parkir saja sudah tidak cukup. Mau tidak mau tetap dipaksakan. Ini jelas mengganggu kenyamanan dan pelayanan,” ujarnya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga berpotensi menghambat pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Warga pun mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret, baik melalui relokasi maupun penyediaan fasilitas pengganti yang lebih representatif.
Menanggapi hal itu, Iim mengakui persoalan Puskesmas Gunung Sari Ulu telah lama menjadi perhatian. Ia menegaskan DPRD akan terus mendorong agar solusi segera direalisasikan, meskipun prosesnya membutuhkan tahapan panjang dalam perencanaan dan penganggaran.
“Ini akan terus kami suarakan. Kalau belum bisa dibangun dalam waktu dekat, minimal ada solusi sementara, misalnya dengan menyewa tempat yang lebih layak,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk di internal DPRD dan pemerintah daerah, terus dilakukan guna mempercepat penanganan persoalan tersebut.
Sementara itu, pihak Kelurahan Gunung Sari Ulu membenarkan bahwa rencana relokasi puskesmas sudah lama diusulkan dan kini masuk dalam prioritas pembahasan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
“Memang ini sudah beberapa tahun terakhir diusulkan. Saat ini kami juga sedang berupaya mencari alternatif lokasi. Kalau relokasi belum bisa, opsi menyewa tempat yang lebih representatif juga menjadi pertimbangan,” ujar pihak kelurahan.
Selain isu kesehatan, warga juga mengangkat persoalan lain yang tak kalah penting, yakni minimnya akses pelatihan kerja bagi lulusan SMA/SMK maupun anak putus sekolah. Mereka berharap ada program pembekalan keterampilan yang lebih konkret agar dapat meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal.
Menanggapi hal tersebut, Iim menyebut pihaknya telah menyampaikan aspirasi tersebut ke dinas terkait, meskipun sebagian kewenangan berada di tingkat provinsi.
“Ini jadi catatan penting. Banyak anak-anak kita yang butuh pelatihan, termasuk di bidang pelayaran. Tapi fasilitasnya masih terbatas. Ini akan terus kami dorong,” ujarnya. (day)
Tinggalkan Balasan