Loadingtea

NUSSA.CO, BALIKPAPAN — Infrastruktur air baku menjadi salah satu perhatian pemerintah pusat saat Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melakukan kunjungan kerja ke Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (8/10).

AHY dijadwalkan meninjau Sumur Air Baku Gunung Tembak, setelah sebelumnya menghadiri sejumlah agenda di Institut Teknologi Kalimantan (ITK). Rangkaian kegiatan tersebut mempertemukan dua aspek penting dalam pembangunan daerah: penguatan infrastruktur dasar dan pemanfaatan kapasitas perguruan tinggi.

Di Gunung Tembak, AHY akan menerima paparan mengenai kondisi infrastruktur air baku sekaligus melihat langsung fasilitas yang menjadi bagian dari penyediaan kebutuhan air masyarakat. Ia juga dijadwalkan berdialog dengan warga penerima manfaat.

Kunjungan lapangan tersebut menjadi kesempatan bagi pemerintah pusat untuk melihat kondisi infrastruktur secara langsung, sekaligus memperoleh gambaran mengenai kebutuhan masyarakat yang berhadapan langsung dengan layanan dasar.

Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Komunikasi dan Informasi Publik, Herzaky Mahendra Putra, mengatakan air merupakan kebutuhan mendasar sehingga aspek pelayanan dan manfaat infrastrukturnya perlu dilihat secara langsung. “Air merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, penting bagi pemerintah melihat langsung kondisi pelayanan dan mendengar pengalaman warga,” ujar Herzaky.

Kampus Tak Sekadar Pusat Pendidikan

Sebelum turun ke infrastruktur air baku, AHY dijadwalkan menghadiri agenda di ITK. Dalam kunjungan tersebut, AHY akan menyampaikan orasi ilmiah pada sidang terbuka senat, menghadiri peresmian Forum Konsorsium Institut Teknologi Negeri di Indonesia (ITX), serta memberikan penghargaan kepada dosen dan mahasiswa berprestasi.

Namun, agenda di lingkungan kampus tidak berhenti pada seremoni akademik. Pemerintah ingin perguruan tinggi mengambil peran lebih besar dalam menjawab persoalan pembangunan.

Menurut Herzaky, kampus memiliki sumber daya pengetahuan dan inovasi yang dapat digunakan untuk membantu pemerintah merumuskan kebijakan maupun solusi pembangunan. “Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam melahirkan gagasan dan inovasi yang dapat mendukung pembangunan,” katanya.

Kebutuhan tersebut semakin relevan dalam pembangunan kewilayahan yang menghadapi persoalan berbeda di setiap daerah. Kebijakan yang efektif, menurut pemerintah, harus memperhitungkan kondisi wilayah sekaligus kebutuhan masyarakat.

“Pembangunan tidak bisa berjalan sendiri. Pemerintah membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan dan inovasi dari perguruan tinggi untuk menghasilkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” ujar Herzaky.

Infrastruktur Harus Berujung pada Manfaat

Rangkaian agenda AHY di Balikpapan memperlihatkan pendekatan pembangunan yang tidak hanya menempatkan infrastruktur sebagai proyek fisik.

Di satu sisi, pemerintah mendorong kampus menghasilkan pengetahuan dan inovasi. Di sisi lain, pemerintah turun langsung melihat infrastruktur dasar yang manfaatnya bersentuhan dengan kehidupan masyarakat.

Herzaky mengatakan pola kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat diperlukan agar pembangunan tidak berjalan secara terpisah. “Kami ingin pembangunan berjalan dengan kolaborasi dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.

Dalam kunjungan tersebut, AHY didampingi Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Nazib Faizal. Sejumlah staf khusus turut mendampingi, yakni Agust Jovan Latuconsina, Sigit Raditya, Ahmad Khoirul Umam dan Arief Rahman.

Kunjungan AHY ke Balikpapan pada akhirnya menempatkan dua isu dalam satu rangkaian agenda: bagaimana pemerintah memperkuat infrastruktur dasar sekaligus memastikan kebijakan pembangunan mendapat dukungan pengetahuan, teknologi dan inovasi dari perguruan tinggi. (day)