Bus Trans Donggala Dongkrak Ekonomi, Load Factor Tembus 104 Persen
NUSSA.CO, DONGGALA – Layanan Bus Trans Donggala yang mulai beroperasi sejak Desember 2024 menunjukkan dampak nyata terhadap pergerakan ekonomi masyarakat. Transportasi publik ini tidak hanya mempermudah mobilitas warga, tetapi juga dinilai berkontribusi dalam menjaga stabilitas harga dan menekan laju inflasi di Kabupaten Donggala, khususnya kawasan Banawa Bersaudara.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Donggala, Happy Noor Handayani, mengungkapkan bahwa minat masyarakat terhadap layanan ini terus meningkat. Tingkat keterisian penumpang (load factor) bahkan telah melampaui target yang ditetapkan sejak awal pengoperasian.
“Secara umum tren penumpang terus naik. Tahun lalu saja load factor sudah mencapai sekitar 104 persen, artinya sudah melebihi target,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (10/03/2026).
Dari data yang dihimpun hingga akhir Februari 2026, pendapatan layanan Bus Trans Donggala telah mencapai kisaran Rp220 juta. Pemerintah daerah optimistis capaian tersebut dapat menembus Rp250 juta pada triwulan pertama tahun ini, seiring dengan meningkatnya jumlah pengguna.
Bus Trans Donggala melayani rute strategis Donggala–Palu dan Palu–Donggala yang selama ini menjadi jalur utama mobilitas masyarakat. Kehadiran transportasi ini memberi kemudahan bagi berbagai kalangan, mulai dari pedagang, mahasiswa, hingga pelajar yang setiap hari beraktivitas di dua wilayah tersebut.
Bagi para pedagang, layanan ini menjadi solusi transportasi yang efisien untuk menjangkau pasar di Kota Palu. Sementara bagi mahasiswa dan pelajar, keberadaan bus ini memberikan alternatif perjalanan yang lebih aman, nyaman, dan terjangkau untuk aktivitas pendidikan.
Dengan tarif yang relatif murah, yakni Rp10 ribu untuk penumpang umum dan Rp3 ribu bagi pelajar serta mahasiswa, layanan ini semakin diminati. Setiap unit bus rata-rata melayani sekitar 100 penumpang per hari. Saat ini, empat unit armada beroperasi aktif, sementara satu unit lainnya disiapkan sebagai cadangan.
Happy menegaskan bahwa tujuan utama penyediaan transportasi publik bukan semata-mata mengejar pendapatan asli daerah (PAD), melainkan untuk memperlancar konektivitas dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
“Transportasi yang lancar akan berdampak langsung pada kelancaran aktivitas ekonomi. Dari situ muncul efek berganda atau multiplier effect yang mendorong pertumbuhan daerah,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa keberadaan transportasi publik memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas harga. Distribusi barang dan mobilitas masyarakat yang lancar dapat mencegah terjadinya penumpukan maupun kelangkaan di suatu wilayah.
“Jika distribusi berjalan baik, maka harga-harga cenderung stabil. Inilah salah satu kontribusi transportasi dalam menekan inflasi,” tegasnya.
Dengan tren positif yang terus meningkat, Bus Trans Donggala diharapkan menjadi tulang punggung transportasi publik yang tidak hanya mendukung mobilitas, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi daerah secara berkelanjutan. (*/Adv)
Tinggalkan Balasan