Loadingtea

Mengenal Lebih Dekat A-Min {ATM Mini}, Agen BRILink Desa Lakatan 

 

Fuuuh….fuuuuh…fuuuh 3x suara napas sedikit menggigil, Icang merangkul sarung tua di pundaknya sembari seruput kopi panas. Yah Setidaknya itu cara defense melawan hawa dingin di Lembah Gunung Galang, Dusun Munawar, Desa Lakatan, Kabupaten Tolitoli.

Itu kesibukan perdananya, sebelum membuka kios kecil di persimpangan jalan.

Hamdani, Tolitoli 

PAGI ITU, pukul 05.59 Wita, kabut belum sepenuhnya lepas dari pucuk-pucuk pohon Cengkeh. Suasana jalan di dusun dengan jumlah penduduk tak kurang dari 70 kepala keluarga itu masih hening senyap. Hanya ada satu dan dua orang lewat, lepas salat subuh berjamaah. Rerata, jam 6 pagi warga dusun masih mendekam di sisi dapur rumah, sarapan, siapkan bekal sebelum beranjak ke kebun, sawah dan sebagian kecil ke kantor abdi negara.

Tahun 2025, bak shio menggembirakan bagi warga dusun, akses jalan mulus, tak lagi berwajah kerikil, berlubang apalagi becek, buah kakao subur, harga cengkeh meroket Rp 120.000 per kilogram, juga berdiri beberapa tiang penerangan mandiri dari beberapa rumah panggung dan permanen.

Wabilkhusus Icang, panggilan akrab Irsan Arsyad {30} pebisnis muda Desa Lakatan, yang memutuskan diri melamar menjadi pegawai bank tanpa seragam, Agen BRILink, pada tahun 2021, 4 tahun silam. Kantornya sederhana, modal nekat, berpondasi batu sungai, dinding batako,

“Alhamdulillah, sejak bergabung Agen BriLink banyak manfaat yang saya dapatkan, bukan hanya saya tapi hampir semua warga desa, mulai dari petani, nelayan, ASN, ibu rumah tangga ikut merasakan dampak positifnya,” aku Icang menjawab pertanyaan.

Icang menceritakan, menjadi Agen BRILink dan ATM Mini ternyata membawa perubahan besar bagi dirinya dan penduduk desa, khususnya dalam aktivitas transaksi dan digitalisasi keuangan.

Sebab, 5 tahun lalu, sebelum ada ATM Mini, mesin EDC dan layanan BRILink, warga desa harus menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam menuju Bank BRI unit Sandana, di desa sebelah, pusat keramaian dan pasar di Kecamatan Galang.

“Tapi sekarang, semua warga transaksinya di sini, transfer uang, tarik uang, beli pupuk, bayar-bayar, beli-beli semakin mudahlah, dan yang amat penting, warga sekarang tidak lagi terjerat rentenir mencekik,” ucapnya syukur.

Meski sudah 4 tahun “berkantor” di Agen BRILink, Icang tak menampik kendala dan hambatan dalam pelayanan. “Musuh utama saya gangguan sinyal dan mati lampu. Ya, sinyal itu seperti jodohlah, kadang tarik ulur. Tapi, BRI sudah siapkan alat andal,  mesin EDC yang dirancang untuk sinyal “setengah hati” sekalipun. Layanan prima itu, ya kita harus siap di segala cuaca dan sinyal!”. Selain itu, karena desa kita ini minim fasilitas komunikasi, sering byarpet pula. Tapi, itu bukan masalah, Alhamdulillah semua bisa diatasi,” serunya.

Sambil mengelus dada, Icang mengaku tak pernah lupa dengan insiden kecil di kiosnya, 2 tahun lalu. Dengan begitu emosi, seorang petani datang mengajukan protes. “Seorang petani tua datang ke kios, katanya saldo di ATM nya berkurang, setelah nge-cek di ATM Mini. Saya pun menenangkan bapak itu, walaupun sempat juga terpancing emosi. Agak alot perdebatan. Tapi, saya masih berpikiran jernih. Akhirnya, saya telusuri jejak digital transaksi. Dan benar, ketahuan, sehari sebelumnya, terlihat bukti transaksi penarikan di tempat lain oleh anaknya. Akhirnya, setelah dijelaskan dengan bahasa lokal, suku bugis, bapak itu mau terima kenyataan. Akhirnya kios saya kembali tenang,” kenang Icang sambil tersenyum.

Sebenarnya masih ada beberapa kisah aral rintang yang dihadapinya di tengah kemajuan digitalisasi transaksi saat ini, seperti bukti transfer yang tidak bisa tercetak atau loading lama akibat jaringan tersendat, penarikan uang yang lebih karena silap mata. Namun begitu, Icang menegaskan, dirinya tidak hanya sekadar melayani warga dan memudahkan pelayanan kepada nasabah di desa. Tapi, menurutnya, edukasi juga teramat penting. Memberikan pemahaman kepada warga, khususnya orangtua, ibu-ibu bagaimana mengecek saldo, cek pembayaran, cicilan dan sebagainya, serta kemudahan transaksi lain yang ditawarkan BRI melalui ATM Mini, BRILink.

Selain itu, sebagian besar petani kini bisa bebas dari jeratan rentenir, berkat AgenBRILink, pinjam modal ultra mikro yang proses pencairannya dibantu BRI, lewat Icang si Agen BRILink Desa Lakatan. “Edukasi tetap saya lakukan, meski saya sekarang sudah punya seorang pegawai baru, cantik dan semringah, jadi pegawai tanpa seragam hehehe. Dan maklumlah, karena ini di desa, desa kami, kebanggaan kami. Intinya, semua jadi lancar, aman, nyaman dan lebih baik berkat BRI,” ringkas Icang menyudahi kisahnya. “Yuk, lanjut ngopinya mas,” ajak Icang kepada media ini.

Itulah Desa Lakatan, desa sederhana nanmenawan di tengah hamparan persawahan, perkebunan nyiur dan kakao, eksis bertahan di antara peradaban modern kekinian, dunia maya dan serba AI.

Dengan tema “Bersama Rakyat, Indonesia Maju”. BRI melalui AgenBRILink kini telah menjadi garis pertahanan ekonomi rakyat, khususnya di desa.

Icang menitip pesan, dengan adanya akses yang mudah dan terpercaya, warga desa tidak lagi terjerumus ke praktik pinjaman non-formal.  BRILink juga merupakan bagian dari perpanjangan tangan negara dalam penyaluran modal usaha formal, seperti KUR, yang jauh lebih sehat. Dari komisi transaksi, Icang kini bisa meng-upgrade kios dan seisinya. Yang tadinya hanya menjual pulsa, kripik pisang, minuman kemasan. Kini naik kelas, hampir semua transaksi digital tersedia, jual asesoris kantor, sekolah, bacetak undangan, alat elektronik serta rumah tangga sebagai sampingan berkah.

Tetap, jabatan utamanya adalah Agen BRILink, agen transaksi dan digitalisasi BRI. “Bersama Rakyat, Indonesia Maju”. {ham}