Loadingtea

NUSSA.CO, BALIKPAPAN – Persoalan air bersih di Balikpapan Barat (Balbar) ternyata tidak semata soal distribusi atau kapasitas, melainkan juga dipicu maraknya pencurian di jaringan pipa. Hal ini terungkap dalam reses Ketua DPRD Kota Balikpapan, H. Alwi Al Qadri, yang digelar di Taman Kampung Baru, Kamis (30/4/2026).

Dalam penjelasannya, Alwi membeberkan bahwa posisi jaringan pipa selama ini justru membuka celah bagi praktik ilegal. Pipa yang terpasang di bawah jembatan disebut menjadi titik rawan pembobolan.

“Di bawah jembatan itu sangat mudah diakses. Ada yang mengambil air langsung dari pipa, bahkan ada yang bukan pelanggan bisa menjual air,” ujarnya.

Kondisi tersebut, menurutnya, bukan hanya menyebabkan kebocoran distribusi, tetapi juga memperparah krisis air yang sudah lama dikeluhkan warga. Untuk menutup celah tersebut, jaringan pipa kini mulai dipindahkan ke atas jembatan.

Langkah itu disebut sudah berjalan dalam beberapa bulan terakhir dan ditargetkan segera beroperasi penuh dalam waktu dekat.

Namun persoalan tidak berhenti di situ. Alwi juga menyoroti praktik pencurian meteran air yang semakin meresahkan. Ia bahkan mengaku menjadi salah satu korban.

“Di rumah saya sendiri meterannya hilang. Artinya ini bukan kasus kecil, tapi sudah jadi persoalan serius,” katanya.

Di tengah situasi tersebut, rencana penambahan 12.000 sambungan rumah (SR) baru oleh Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) menjadi secercah harapan, khususnya bagi warga Balikpapan Barat yang selama ini kesulitan mendapatkan akses air bersih.

Meski demikian, Alwi memberi peringatan tegas agar kebijakan tersebut tidak berhenti di level wacana. Ia menyoroti pengalaman warga yang harus menunggu hingga bertahun-tahun hanya untuk pemasangan sambungan baru akibat kendala pipa induk.

“Kalau memang dibebankan ke masyarakat tidak masalah, asal prosesnya jelas dan cepat. Jangan sampai masyarakat menunggu satu sampai tiga tahun,” tegasnya.

Selain keterlambatan pemasangan, lemahnya tekanan air juga menjadi masalah lain. Di sejumlah kawasan, air hanya mengalir pada dini hari, memaksa warga menyesuaikan waktu istirahat mereka.

“Air hidupnya jam dua atau tiga pagi. Ini jelas membebani masyarakat,” ujarnya.

Alwi memastikan akan terus mengawal persoalan tersebut, termasuk memastikan janji percepatan sambungan baru benar-benar terealisasi di lapangan.

Di luar isu air bersih, ia juga menyinggung perubahan wajah kawasan Kampung Baru. Area yang dulunya dikenal sebagai pasar loak kini telah disulap menjadi ruang terbuka publik.

Ke depan, lokasi tersebut akan dilengkapi fasilitas tambahan seperti videotron untuk mendukung aktivitas masyarakat.

“Sudah kita tata jadi lebih baik, sekarang tinggal bagaimana kita menjaganya,” tutupnya. (day)