Loadingtea

NUSSA.CO, SAMARINDA – Pembangunan kolam renang senilai Rp9 miliar di SMK Negeri 2 Sangatta Utara, Kutai Timur, terancam mangkrak akibat konflik antara kontraktor pelaksana dengan toko penyedia material.

Proyek yang dibiayai melalui APBD Provinsi Kalimantan Timur Tahun Anggaran 2024 itu kini menghadapi penghentian pasokan bahan bangunan yang krusial bagi kelanjutan pekerjaan.

Kolam renang ini merupakan bagian dari pengembangan fasilitas pendidikan berbasis maritim, mendukung kurikulum kelautan yang menjadi program unggulan sekolah. Berdasarkan data Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kaltim, proyek ini dikerjakan oleh CV. Kalembo Ade Mautama.

Namun sejak pertengahan April 2025, toko penyedia material Berlian Jaya Abadi menghentikan pengiriman bahan bangunan karena terjadi perselisihan internal dengan kontraktor. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran proyek tidak dapat rampung tepat waktu, yakni pada Mei 2025, sebagaimana ditargetkan.

Keterlambatan ini bukan hanya soal fisik bangunan, tetapi berpotensi mengganggu proses pembelajaran siswa yang selama ini telah disiapkan untuk fokus pada kompetensi bidang maritim.

Agus Aras, anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, menanggapi serius perkembangan tersebut. Ia menegaskan agar seluruh pihak, mulai dari Dinas Pendidikan, kontraktor, hingga penyedia material, segera duduk bersama mencari jalan keluar.

“Masalah ini harus segera diselesaikan. Memang sudah terjadi keterlambatan, tetapi Dinas Pendidikan bersama kontraktor dan penyedia material harus mencari solusi cepat agar proyek ini tidak terhambat lebih jauh,” ucap Agus Aras, Jum’at (2/5/2025).

Ia juga menilai bahwa anggaran Rp9 miliar tergolong wajar mengingat kolam ini dirancang khusus untuk keperluan pelatihan berbasis maritim, bukan sekadar fasilitas rekreasi.

“Kolam renang yang dibangun ini bukan hanya untuk rekreasi, melainkan untuk mendukung program pendidikan maritim di SMK. Jadi, tentu ada standar yang berbeda dalam hal spesifikasi dan kualitasnya,” ungkapnya.

Agus menyebut pembangunan ini merupakan bagian penting dari penguatan pendidikan vokasi di Kalimantan Timur dan investasi jangka panjang dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Ia juga menegaskan bahwa keterlambatan pembangunan tidak hanya berpotensi merugikan keuangan daerah, tetapi juga dapat berdampak pada masa depan siswa yang akan mengandalkan fasilitas tersebut untuk praktik pembelajaran.

“Kalau memang proyek ini tidak selesai tepat waktu, maka Dinas Pendidikan harus segera melakukan evaluasi total dan mengambil langkah-langkah strategis untuk memastikan proyek ini tetap berjalan sesuai target. Ini adalah investasi besar untuk masa depan pendidikan kita,” pungkas Agus.

Sebagai bentuk pengawasan, Agus membuka opsi melakukan inspeksi langsung ke lokasi proyek dalam waktu dekat. Hal itu untuk memastikan progres pembangunan dan mendesak semua pihak segera menyelesaikan konflik yang menghambat. (ADV)