Revitalisasi Mangrove Jadi Solusi Peningkatan PAD PPU
NUSSA.CO, PPU – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Hj. Andi Israwati Latief, mengungkapkan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) PPU masih belum mencapai potensinya. Salah satu faktor utamanya adalah belum maksimalnya pengelolaan aset wisata yang dimiliki oleh pemerintah daerah.
“Saat ini, PAD dari sektor pariwisata masih belum optimal karena banyak aset yang belum dikelola secara efektif oleh pemerintah daerah. Salah satu contoh nyata adalah Pantai Amal yang bukan merupakan aset pemerintah melainkan milik pribadi,” ujar Andi Israwati dalam keterangannya, Jumat (13/9/2024).
Ia menambahkan bahwa beberapa kegiatan seperti festival Popda Rush memang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat melalui perputaran ekonomi lokal seperti UMKM, tetapi masih belum sepenuhnya menyumbang secara langsung pada PAD.
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan PAD, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata PPU tengah melakukan revitalisasi kawasan mangrove di Kampung Baru. Revitalisasi ini ditargetkan selesai pada November 2024, dan diharapkan kawasan mangrove tersebut akan menjadi destinasi wisata edukatif yang mampu menarik wisatawan lokal maupun luar daerah.
“Revitalisasi kawasan mangrove ini akan memberikan manfaat ganda, baik sebagai upaya pelestarian lingkungan maupun sebagai destinasi wisata edukatif yang mendukung peningkatan ekonomi lokal,” jelas Andi.
Rencana jangka panjang ini juga melibatkan pembebasan lahan untuk area parkir di kawasan Mangrove Kampung Baru. Pembebasan lahan dijadwalkan untuk dimulai pada tahun 2024, dan perhitungan nilai aset akan dilaksanakan pada Januari 2025 dengan melibatkan jasa appraisal independen. Menurutnya, ini merupakan langkah penting dalam memastikan keberlangsungan kawasan tersebut sebagai aset wisata yang dikelola secara profesional.
Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata dan Pemasyarakatan Disbudpar PPU, Juzlizar Rakhman, juga menegaskan bahwa sektor pariwisata, jika dikelola dengan baik, memiliki potensi untuk terus mendatangkan PAD secara berkelanjutan. “Berbeda dengan tambang atau hutan yang memiliki batasan usia pakai, sektor wisata seperti mangrove dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan selama dikelola dengan baik,” ujarnya.
Juzlizar juga mengungkapkan bahwa Pantai Amal yang saat ini dikelola oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) karena merupakan aset pribadi, menimbulkan tantangan tersendiri dalam pemungutan pendapatan. Untuk itu, penting bagi pemerintah daerah untuk fokus pada pengembangan aset wisata yang dimiliki langsung, seperti kawasan mangrove yang sedang direvitalisasi.
“Dengan perawatan dan pengelolaan yang tepat, aset wisata seperti mangrove akan terus memberikan kontribusi positif terhadap PAD, berbeda dengan sumber daya alam yang dapat habis. Kami berharap revitalisasi ini bisa selesai tepat waktu dan memberikan hasil yang maksimal,” pungkas Juzlizar.
Disbudpar PPU berharap dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah daerah, untuk memastikan pengembangan dan pengelolaan aset wisata ini dapat berjalan sesuai rencana. Dengan demikian, PAD PPU dapat meningkat secara signifikan, sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru yang berkelanjutan bagi daerah. (Adv/DiskominfoPPU)
Tinggalkan Balasan