Loadingtea

NUSSA.CO, BALIKPAPAN — Ketua DPC IWAPI Balikpapan, Hj. Yuli Shinta Novianti, menegaskan pentingnya penguasaan bahasa asing sejak dini sebagai bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia unggul di masa depan. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan kompetisi bahasa Inggris yang digelar di Atrium Mall Pentacity Balikpapan Super Block, Minggu (2/8/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja bidang hubungan internasional IWAPI, khususnya di bawah WKU 7 Budewi. Yuli menyebut, kompetisi tersebut telah dilaksanakan secara konsisten selama empat tahun terakhir, hasil kolaborasi IWAPI dengan lembaga pendidikan bahasa Inggris Skobu.

“Ini agenda rutin kami untuk mengedukasi sekaligus memotivasi anak-anak agar lebih percaya diri dan aktif berlatih bahasa Inggris,” ujar Yuli.

Ia menjelaskan, Skobu merupakan pusat pelatihan bahasa Inggris berbasis internasional yang memiliki koneksi dari Singapura. Melalui kerja sama ini, IWAPI menghadirkan metode pembelajaran yang tidak hanya bersifat kursus, tetapi juga berorientasi pada pengembangan kemampuan praktis berbahasa.

Kompetisi tahun ini diikuti sekitar 164 peserta siswa sekolah dasar, yang terbagi dalam dua kategori, yakni kelas 1–3 SD dan kelas 4–6 SD. Dari jumlah tersebut, lebih dari 90 peserta berasal dari kategori kelas atas, sementara sisanya dari kelas bawah.

Ketua DPC IWAPI Balikpapan, Hj. Yuli Shinta Novianti

Menurut Yuli, tingginya antusiasme peserta menjadi indikator kuat bahwa anak-anak memiliki semangat besar untuk berkembang. Bahkan, tidak sedikit peserta yang menunjukkan emosi ketika tidak mampu menjawab soal, sebagai bentuk keinginan kuat untuk berhasil.

“Di situ kita melihat mental mereka. Mereka ingin maju, ingin pintar, dan itu harus terus kita dorong,” katanya.

Selain fokus pada kompetensi bahasa, IWAPI juga menekankan pentingnya keseimbangan antara pendidikan dan pemenuhan gizi anak. Yuli menyoroti bahwa kecerdasan anak tidak akan optimal tanpa asupan makanan yang sehat dan bergizi, terlebih di tengah meningkatnya kembali angka stunting.

“Ibu memiliki peran penting sebagai pendidik pertama. Selain pendidikan, anak juga harus mendapatkan gizi yang cukup agar tumbuh optimal,” tegasnya.

Dalam pelaksanaan lomba, panitia juga melakukan inovasi dengan memanfaatkan gadget sebagai media pembelajaran. Berbeda dengan sistem sebelumnya yang bersifat eliminasi langsung, kini metode yang digunakan lebih interaktif dan inklusif.

“Gadget kami arahkan sebagai alat belajar, bukan untuk bermain game atau hal negatif. Anak-anak harus diajarkan menggunakan teknologi secara positif sejak dini,” jelas Yuli.

Melalui kegiatan ini, IWAPI berharap dapat mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesiapan mental, keterampilan komunikasi global, serta kesadaran akan pentingnya kesehatan.

“Ini bagian dari upaya kita menyiapkan anak-anak Indonesia menjadi generasi emas yang siap bersaing di tingkat internasional,” tutupnya. (day)