Loadingtea

NUSSA.CO, SAMARINDA — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda tidak sekadar menjadi agenda keagamaan. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat pembinaan spiritual warga binaan sekaligus mendorong perubahan perilaku selama menjalani masa pidana.

Kegiatan Maulid Nabi 1448 Hijriah digelar di Masjid Lapas Narkotika Samarinda, Kamis (3/9/2026), dengan tema “Teladani Akhlak Mulia Nabi Muhammad untuk Hidup Lebih Bermakna dan Berkah dalam Setiap Langkah.”

Rangkaian kegiatan diisi tausiyah dan doa bersama yang diikuti petugas, istri petugas serta warga binaan pemasyarakatan (WBP) beragama Islam.

Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda, Puang Dirham, mengatakan keteladanan Rasulullah relevan dijadikan pijakan dalam proses pembinaan warga binaan.

“Yang kita ingatkan kembali adalah bagaimana meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad sebagai Rasul dan panutan umat Islam,” ujarnya.

Menurutnya, pembinaan keagamaan diharapkan mampu menjadi bagian dari proses perubahan warga binaan, bukan berhenti pada kegiatan seremonial.

“Harapannya warga binaan yang tadinya kurang baik menjadi baik. Yang sudah baik menjadi lebih baik lagi,” katanya.

Puang Dirham menyebut kegiatan berlangsung khidmat dengan antusiasme peserta yang cukup tinggi. Lapas Narkotika Samarinda saat ini dihuni sekitar 900 warga binaan dengan latar belakang agama yang beragam.

Karena itu, kegiatan Maulid hanya diperuntukkan bagi WBP muslim. Sementara warga binaan nonmuslim tetap memperoleh pembinaan kerohanian sesuai agama dan keyakinannya.

“Yang nonmuslim tetap kegiatannya bersifat kerohanian sesuai dengan agama yang dianut,” jelasnya.

Pembinaan Keagamaan Berlangsung Rutin

Puang Dirham menegaskan pembinaan spiritual tidak hanya dilakukan ketika memasuki momentum hari besar keagamaan. Lapas juga bekerja sama dengan Kementerian Agama untuk menjalankan program pembinaan secara terjadwal.

“Kita kerja sama dengan Kemenag sebagai platform keagamaan. Kegiatannya sudah teragenda sesuai dengan kepercayaan kita masing-masing,” ujarnya.

Bagi WBP muslim, pembinaan mencakup pengajian, ceramah, hafalan Al-Qur’an hingga kegiatan bernuansa pesantren.

Sementara bagi WBP Nasrani, pembinaan dilakukan melalui kerja sama dengan gereja yang diakui Kementerian Agama dan dilaksanakan secara bergantian.

Bagi Lapas Narkotika Samarinda, pendekatan keagamaan menjadi salah satu instrumen pembinaan untuk membantu warga binaan membangun kembali karakter, memperkuat kesadaran spiritual dan mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat. (*/day)