Loadingtea

NUSSA.CO,BALIKPAPAN — Masa menjalani pidana tidak semestinya hanya dimaknai sebagai periode menjalani hukuman. Di balik tembok Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Balikpapan, masa pembinaan terus diarahkan menjadi ruang refleksi, pembentukan karakter, sekaligus persiapan bagi warga binaan untuk kembali menjalani kehidupan secara lebih baik di tengah masyarakat.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui pembinaan kepribadian yang dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan. Salah satunya melalui penguatan nilai-nilai keagamaan yang digelar pada Senin (24/08/2026), dengan materi yang disesuaikan bagi warga binaan pria maupun perempuan.

Kepala Rutan Kelas IIA Balikpapan, Andre Silalahi, menegaskan bahwa pembinaan kepribadian merupakan bagian penting dari proses pemasyarakatan. Menurutnya, masa pembinaan harus mampu menjadi kesempatan bagi warga binaan untuk melakukan introspeksi sekaligus membangun kembali karakter dan pola pikir yang lebih positif.

“Pembinaan bukan hanya bagaimana warga binaan menjalani masa pidananya, tetapi bagaimana mereka memanfaatkan masa tersebut untuk melakukan perubahan. Kami ingin setiap warga binaan memiliki bekal moral, spiritual, dan karakter yang kuat ketika nantinya kembali ke keluarga dan lingkungan masyarakat,” ujar Andre Silalahi.

Ia menambahkan, pembinaan keagamaan menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun kesadaran dari dalam diri warga binaan. Nilai-nilai yang disampaikan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat diterapkan dalam perilaku sehari-hari.

“Kami terus mendorong agar kegiatan pembinaan dilaksanakan secara humanis, edukatif dan berkesinambungan. Harapannya, warga binaan tidak hanya memahami nilai-nilai yang diberikan, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan setelah selesai menjalani masa pembinaan,” katanya.

Bagi warga binaan perempuan, pembinaan dilaksanakan di Blok Hunian Wanita melalui pembelajaran tahsin Al-Qur’an bersama pengajar dari MT Qonita. Kegiatan tidak sekadar mengajarkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai tajwid, makharijul huruf, serta membiasakan peserta membaca ayat-ayat suci secara baik dan benar.

Suasana pembelajaran berlangsung interaktif. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa pembinaan keagamaan dapat menjadi salah satu sarana untuk membangun ketenangan batin sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk terus memperbaiki diri.

Sementara bagi warga binaan pria, pembinaan keagamaan dilaksanakan di Masjid Asy-Syuhada Rutan Balikpapan. Pengelola Pembinaan Kepribadian, Samidi, menyampaikan materi yang menitikberatkan pada penguatan akhlak dan ketakwaan.

Pesan yang dibangun bukan semata mengenai kewajiban menjalani masa pidana, melainkan bagaimana masa tersebut dapat digunakan sebagai momentum untuk melakukan introspeksi, memahami kesalahan, dan menyiapkan perubahan ketika nantinya kembali ke lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Nilai kesabaran, kejujuran, tanggung jawab dan kedisiplinan menjadi bagian penting yang terus ditanamkan. Sebab, keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari berakhirnya masa hukuman, tetapi juga dari sejauh mana seseorang mampu membawa perubahan positif ketika kembali ke tengah masyarakat.

Pendekatan semacam ini menempatkan warga binaan bukan sekadar sebagai orang yang sedang menjalani hukuman, melainkan sebagai individu yang masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan membangun kembali masa depannya.

Karena itu, pembinaan kepribadian menjadi bagian strategis dalam proses pemasyarakatan. Pendidikan keagamaan, pembentukan karakter dan pendampingan moral diharapkan dapat menjadi bekal agar warga binaan memiliki kesadaran, tanggung jawab serta kesiapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bebas.

Rutan Kelas IIA Balikpapan terus mendorong agar pembinaan berlangsung secara humanis, edukatif dan berkesinambungan. Di balik setiap proses pembinaan, terdapat harapan bahwa perubahan tidak berhenti di dalam rutan, tetapi berlanjut ketika warga binaan kembali ke keluarga dan lingkungan sosialnya.

Andre menambahkan, pada akhirnya, pembinaan bukan hanya tentang bagaimana seseorang menjalani hukuman, tetapi tentang bagaimana masa lalu dapat dijadikan pelajaran untuk membangun kehidupan yang baru. “Sebab, kesempatan untuk berubah selalu menjadi bagian penting dari proses menjadi manusia yang lebih baik,” Tutupnya.