Loadingtea

NUSSA.CO, PPU — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Sukomulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, yang berada dalam kawasan deliniasi Ibu Kota Nusantara (IKN), ditangani tim gabungan TNI, Dinas Kehutanan dan Otorita IKN.

Yonif TP 826/Benuo Taka Bakerai mengerahkan 22 personel untuk memperkuat pemadaman dan penyisiran titik api. Tim juga mengoperasikan satu unit mobil pemadam kebakaran milik batalyon tersebut untuk mempercepat pengendalian api.

Komandan Yonif TP 826/BTB, Letkol Inf Sulaiman, S.I.P., M.Han., mengatakan penanganan dilakukan bersama Kodim 0913/PPU, Polres PPU, KPHP Dinas Kehutanan dan OIKN.

“Kekuatan yang berada di lapangan terdiri dari 6 personel Kodim 0913/PPU, 22 personel Yonif TP 826/BTB, sekitar 15 personel KPHP Dinas Kehutanan, serta sekitar 10 personel OIKN,” kata Sulaiman. Sabtu (5/9/2026)

Selain armada pemadam Yonif TP 826/BTB, tim juga menggunakan kendaraan Kajama milik KPHP Dinas Kehutanan. Pemadaman dilakukan dengan armada dan mesin pompa Alkon, sementara personel terus menyisir area untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.

Kondisi angin kencang serta vegetasi berupa semak belukar dan gambut tipis membuat api berpotensi cepat menyebar. Karena itu, pemantauan juga dilakukan dari udara menggunakan helikopter Caracal dan drone milik Yonif TP 826/BTB.

Lokasi kebakaran berada sekitar 30 kilometer dari Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN dan sekitar 67 kilometer dari Bandara Nusantara.

Ancaman tidak hanya menyasar vegetasi. Kobaran api juga berada di sekitar Kampung Dayak Nusantara, yang dihuni sekitar 50 kepala keluarga. Di kawasan tersebut terdapat lahan perkebunan milik warga dengan luas sekitar lima hektare per kepala keluarga yang antara lain ditanami pinang dan kelapa sawit.

Tim gabungan juga mengantisipasi dampak kebakaran terhadap fasilitas umum di sekitar lokasi, termasuk satu masjid dan satu Gereja Oikumene.

Sulaiman mengatakan personel masih melakukan penyisiran untuk memastikan bara api benar-benar padam sekaligus mencegah munculnya titik api baru. Ia juga meminta masyarakat dan pengelola lahan tidak menggunakan metode pembakaran saat membuka atau membersihkan lahan.

“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya para pemilik dan pengelola lahan, agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Kondisi angin dan karakteristik vegetasi yang kering dapat menyebabkan api dengan cepat meluas dan sulit dikendalikan,” tegasnya. (*/day)