Ia meminta pemerintah menjadikan kondisi sejumlah pasar yang telah direvitalisasi sebelumnya sebagai bahan evaluasi agar persoalan serupa tidak terulang.
“Kami baru mendengar adanya rencana revitalisasi Pasar Segiri. Namun, kita harus melihat dulu kondisi lapangan, karena pasar yang sudah selesai direvitalisasi pun masih menyisakan persoalan,” ujar Iswandi.
Politisi asal PDI Perjuangan ini mencontohkan proyek revitalisasi Pasar Pagi yang telah rampung tetapi masih menghadapi kendala penataan lapak.
“Saat ini, masih banyak kios yang sudah dialokasikan namun dibiarkan kosong oleh pemiliknya. Padahal, banyak pedagang lain yang sangat membutuhkan tempat untuk berjualan,” lanjutnya.
Komisi II mendorong pemerintah daerah untuk segera mendata dan mengevaluasi lapak-lapak yang tidak berpenghuni. Kios yang dibiarkan kosong dalam waktu lama disarankan untuk dialihkan kepada pedagang yang benar-benar berniat jualan.
“Jika sampai Agustus lapak yang sudah dibagikan tetap tidak ditempati, sebaiknya ditarik saja. Masih banyak pedagang lain yang butuh tempat. Pasar itu wadah untuk menggerakkan ekonomi masyarakat, bukan untuk investasi (spekulasi) tempat,” tegasnya
Iswandi berharap pengembangan pasar tradisional ke depan dapat menciptakan pusat perdagangan yang hidup dan memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.
“Pembangunan harus berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Pemerintah hadir untuk memperkuat potensi ekonomi yang sudah tumbuh di lapangan,” pungkasnya. *)
Tinggalkan Balasan