Ketua Komisi III DPRD Balikpapan, Yusri: Jadikan Ramadan Sebagai Madrasah Kehidupan yang Berkelanjutan
NUSSA.CO, BALIKPAPAN – Ketua Komisi III DPRD Kota Balikpapan, Yusri, mengajak masyarakat untuk menjadikan bulan suci Ramadan sebagai momentum refleksi dan peningkatan kualitas diri yang tidak terbatas dalam satu bulan saja, tetapi terus berlanjut sepanjang tahun.
Hal ini disampaikannya dalam sebuah diskusi mengenai persiapan menghadapi Ramadan yang digelar di Kantor DPRD Balikpapan. Ia menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar momen ibadah tahunan, tetapi harus menjadi madrasah kehidupan, di mana nilai-nilai spiritual dan sosial yang dipraktikkan selama bulan suci dapat membentuk kebiasaan baik dalam keseharian.
“Ramadan bukan hanya tentang puasa dan ibadah, tetapi juga bagaimana kita meningkatkan kesadaran sosial dan kepedulian terhadap sesama. Ini harus menjadi momentum bagi kita semua untuk memperbaiki diri dan menjadikan kebaikan sebagai kebiasaan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, Ramadan memberikan kesempatan bagi umat Muslim untuk memperkuat hubungan dengan keluarga, meningkatkan kepedulian sosial, serta lebih aktif dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Ia juga mengingatkan bahwa kebaikan dan semangat ibadah yang dijalankan selama Ramadan tidak boleh bersifat sementara, tetapi harus menjadi tolok ukur untuk kehidupan setelahnya.
“Setelah Ramadan berakhir, kita harus tetap istiqomah dalam kebaikan. Jangan sampai kita hanya rajin beribadah selama Ramadan, lalu kembali ke kebiasaan lama setelahnya. Nilai-nilai seperti kedisiplinan, kejujuran, dan kepedulian harus terus dijaga,” tegasnya.
Lebih lanjut, Yusri juga menyoroti pentingnya Ramadan sebagai ajang introspeksi, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Ia berharap bulan suci ini dapat menjadi waktu bagi semua pihak, termasuk pemerintah, untuk mengevaluasi diri dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
“Kami di DPRD juga ingin memastikan bahwa Ramadan membawa manfaat bagi semua orang, termasuk dalam aspek pelayanan publik. Kami mendorong pemerintah untuk lebih memperhatikan kebutuhan masyarakat selama Ramadan, baik dalam hal stabilitas harga bahan pokok, kelancaran distribusi LPG subsidi, hingga kesiapan infrastruktur tempat ibadah,” tambahnya.
Selain itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk memanfaatkan Ramadan sebagai waktu untuk mempererat solidaritas dan kebersamaan. Kegiatan berbagi dengan sesama, seperti sedekah, zakat, dan buka puasa bersama, harus menjadi budaya yang terus dipertahankan, bahkan setelah Ramadan berakhir.
“Kita ingin Ramadan ini tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga menjadi pendorong bagi kita semua untuk lebih baik dalam segala aspek. Jika semangat Ramadan bisa terus dipertahankan, maka dampaknya akan sangat besar bagi kehidupan sosial dan pembangunan kota kita,” tutupnya. (Adv)
Tinggalkan Balasan