Loadingtea

NUSSA.CO, BALIKPAPAN – Upaya menurunkan angka stunting di Kota Balikpapan kembali diperkuat melalui kegiatan pemeriksaan lanjutan bagi balita yang berisiko mengalami gangguan pertumbuhan. Program ini merupakan tindak lanjut intervensi kesehatan yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan secara bertahap di seluruh wilayah kelurahan, dengan menggandeng tenaga medis spesialis anak untuk memastikan balita yang terindikasi stunting mendapatkan penanganan yang tepat dan menyeluruh.

Kegiatan pemeriksaan digelar pada Rabu, (8/10/205), dipimpin Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan melalui Tim Kerja Gizi Kesjaor dan Bidang Kesehatan Masyarakat, bekerja sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kaltim serta tim Puskesmas pengampu. Dalam pelaksanaan tahap awal, sebanyak 50 balita dari lima kelurahan menjadi sasaran pemeriksaan, yakni Kelurahan Karang Rejo, Karang Jati, Gunung Sari Ulu, Gunung Sari Ilir, dan Mekar Sari.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati, menyampaikan bahwa pemeriksaan lanjutan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang menekan prevalensi stunting di kota minyak. Pemeriksaan dilakukan oleh dokter spesialis anak, meliputi pengukuran berat dan tinggi badan, pemantauan pertumbuhan, penilaian status gizi, konsultasi kesehatan lanjutan, hingga edukasi mendalam untuk orang tua mengenai nutrisi sesuai usia serta penyebab dan dampak stunting.

“Kami melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap balita yang telah teridentifikasi atau berisiko mengalami stunting. Tujuannya agar intervensi dapat diberikan lebih cepat, sehingga kondisi anak dapat membaik dan perkembangan mereka lebih optimal,” ujar Alwiati.

Selain pemeriksaan klinis, kegiatan ini juga dirangkai dengan edukasi kepada orang tua mengenai pemberian makanan yang tepat, pentingnya pemantauan rutin di Posyandu, serta bahaya stunting terhadap kecerdasan dan kualitas hidup anak di masa depan.

Sebagai tahap akhir, digelar diskusi kelompok terarah (FGD) antara tim DKK, IDAI, dan Puskesmas untuk mengevaluasi hasil pemeriksaan dan menyusun langkah tindak lanjut bagi anak-anak yang masuk kategori risiko tinggi.

Alwiati menegaskan bahwa Pemkot Balikpapan terus menunjukkan komitmen kuat dalam pencegahan dan penanganan stunting melalui kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, layanan kesehatan seperti ini adalah bentuk dukungan negara terhadap tumbuh kembang anak dalam periode emas 1.000 hari pertama kehidupan.

“Ini bukan hanya pemeriksaan teknis, tetapi bentuk komitmen pemerintah memastikan masa depan anak-anak Balikpapan lebih sehat, kuat, dan cerdas,” tuturnya. (Adv)