Loadingtea

Nussa.co Samarinda- Lambatnya penurunan angka stunting di Kalimantan Timur kembali menjadi sorotan, terutama terkait efektivitas lebih dari 5.000 Posyandu yang diklaim sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Hingga 2024, prevalensi stunting Kaltim baru berada di angka 22,2 persen—turun tipis dari 22,8 persen pada 2021.

Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, menilai bahwa banyaknya Posyandu belum otomatis mencerminkan efektivitas di lapangan.

Ia menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh agar fasilitas tersebut benar-benar memberikan layanan yang berdampak.

“Bukan cuma soal angka. Pertanyaannya, apakah Posyandu benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat? Jangan hanya ada, tapi tidak efektif,” ujarnya, Selasa (25/11/2025).

Ananda menekankan bahwa penanganan stunting harus dimulai dari hal paling mendasar: pemenuhan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan dan kesehatan remaja putri.

Menurutnya, perhatian terhadap dua kelompok ini sangat menentukan kualitas generasi mendatang.

“Kalau fase itu tidak terpenuhi gizinya, stunting muncul. Remaja putri juga harus dicek kesehatannya dan diberi vitamin tambahan,” jelasnya.

Ia juga mendorong penguatan tenaga medis di tingkat kelurahan dan kecamatan, terutama di Posyandu dan Puskesmas
sebagai lini pertama pencegahan stunting.

“Mereka yang pertama meng-screening dan memberikan edukasi. Tenaga medis perlu ditambah,” katanya.

Meski pemerintah pusat menargetkan angka stunting turun menjadi 14 persen pada 2024, progres Kaltim masih tertinggal.

“Pemerintah provinsi perlu terobosan lebih berani agar penanganan stunting tidak berjalan setengah hati,” pintanya.

Ia menegaskan perlunya kolaborasi dan evaluasi lintas layanan kesehatan, mulai dari Posyandu, Puskesmas, hingga rumah sakit, untuk memastikan intervensi benar-benar tepat sasaran dan berdampak nyata bagi ibu dan anak.

[frdy|anl]