Loadingtea

NUSSA.CO, BALIKPAPAN – Di tengah perlambatan arus logistik regional dan menurunnya aktivitas proyek Ibu Kota Nusantara (IKN), PT Kaltim Kariangau Terminal (KKT) tetap mampu menjaga stabilitas kinerja sepanjang 2025. Sepanjang Januari hingga Desember, terminal petikemas ini membukukan arus bongkar muat sebanyak 200.418 TEUs, mencerminkan ketahanan operasional pelabuhan strategis di Kalimantan Timur di tengah tekanan pasar.

Meski tidak setinggi lonjakan pada 2024, capaian tersebut menunjukkan kemampuan KKT mempertahankan kelancaran rantai pasok di tengah perubahan pola distribusi barang. Pada 2024, arus petikemas KKT tercatat tumbuh sekitar 20 persen, sementara pada 2025 realisasi volume berada sekitar 5 persen di bawah target RKAP. Penurunan ini tidak lepas dari faktor eksternal yang memengaruhi struktur muatan dan arus logistik kawasan.

Direktur Utama PT Kaltim Kariangau Terminal, Enriany Muis, menegaskan bahwa kinerja 2025 tidak bisa semata-mata diukur dari angka pertumbuhan, melainkan dari keberlanjutan pelayanan dan efisiensi sistem operasional. Menurutnya, di tengah dinamika ekonomi dan pergeseran pola muatan, KKT tetap mampu menjaga reliabilitas layanan pelabuhan.

“Kami fokus memastikan operasional berjalan tepat waktu, akurat, dan konsisten. Walaupun volume tertekan, kualitas layanan dan kepercayaan pengguna jasa tetap kami jaga,” ujar Enriany.

Salah satu langkah strategis yang menopang kinerja 2025 adalah transformasi digital melalui penerapan Vehicle Mounted Terminal (VMT). Sistem ini menggantikan pola kerja manual menjadi berbasis komputer yang terpasang langsung di peralatan bongkar muat seperti reach stacker, RTG, dan head truck. Melalui VMT, seluruh pergerakan petikemas dapat dipantau secara real time, meningkatkan akurasi data dan mempercepat pengambilan keputusan di lapangan.

Transformasi ini dinilai memperkuat kendali operasional, sekaligus meminimalkan kesalahan pencatatan dan keterlambatan proses. Dengan sistem digital tersebut, KKT mampu mempertahankan produktivitas meskipun volume petikemas tidak mengalami pertumbuhan agresif.

Di sisi lain, tekanan pada arus petikemas 2025 juga dipicu oleh perubahan jenis muatan. Sekitar 10 persen kargo, terutama besi tua dan barang pindahan, beralih dari petikemas ke skema nonpetikemas. Selain itu, melambatnya proyek pembangunan IKN turut menurunkan distribusi material konstruksi yang sebelumnya banyak dikirim dalam bentuk petikemas.
“Ini adalah realitas pasar. Kami tidak melihatnya sebagai kemunduran, tetapi sebagai fase penyesuaian yang harus dikelola secara adaptif,” jelas Enriany.

Menghadapi 2026, PT Kaltim Kariangau Terminal menyiapkan strategi diversifikasi muatan dan penguatan kemitraan. Salah satu peluang yang tengah dijajaki adalah pengembangan pasar Crude Palm Oil (CPO) sebagai komoditas potensial yang dapat memperluas basis layanan dan meningkatkan arus barang melalui pelabuhan Kariangau.

“Kinerja 2025 menjadi fondasi penting untuk langkah berikutnya. Kami akan terus beradaptasi, memperkuat sistem operasional, dan menjaga kepercayaan pengguna jasa agar pelabuhan ini tetap menjadi simpul logistik utama di Kalimantan Timur,” tutup Enriany. (*/Adv)