Loadingtea

Nussa.co Samarinda-Keterbatasan tenaga gizi di Kalimantan Timur menjadi salah satu faktor lambatnya penanganan stunting. Data BPS Kaltim 2024 mencatat hanya ada 503 tenaga gizi untuk melayani 4,05 juta penduduk, jauh dari standar ideal nasional yakni 35 tenaga gizi per 100 ribu jiwa.
Kondisi ini membuat upaya menghadapi stunting berjalan lambat dan tidak merata.

Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, menegaskan bahwa minimnya tenaga gizi akan berdampak langsung pada kualitas intervensi bagi ibu dan anak, dua kelompok yang menjadi fokus utama pencegahan stunting.

“Kalau bicara stunting, bicara tentang gizi anak dan ibu. Tenaga gizi adalah garda depan. Jumlahnya kurang, jelas berdampak pada penanganan di lapangan,” ucapnya, Selasa (25/11/2025).

Tak hanya soal jumlah, distribusi tenaga gizi pun masih timpang. Samarinda tercatat memiliki 93 tenaga gizi, disusul Balikpapan 87, Kutai Kartanegara 81, Berau 47, Paser 46, Kutai Timur 46, Kutai Barat 36, Bontang 27, Penajam Paser Utara 24, dan Mahakam Ulu hanya 16 tenaga gizi.

“Akhirnya wilayah pedalaman dan daerah dengan cakupan luas sulit mendapatkan layanan gizi yang memadai,” terangnya.

Untuk mengatasi krisis ini, Ananda mendorong Dinas Kesehatan Kaltim segera menggandeng kampus-kampus kesehatan seperti Universitas Mulawarman, UMKT, dan Poltekkes Kemenkes.

Menurutnya, kolaborasi dengan perguruan tinggi dapat menjadi langkah strategis untuk mempercepat penambahan dan pemerataan tenaga gizi.

“Kami di DPRD meminta kerja sama konkret agar jumlah tenaga gizi meningkat dan persebarannya lebih baik. Ini penting supaya penanganan stunting tidak terus tertinggal,” tegasnya.

[frdy|anl]