Loadingtea

NUSSA.CO, SAMARINDA – Kampanye Tolak Politik Uang terus masif dilakukan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) tanpa terkecuali Bawaslu Kaltim. Bonus demografi yang mencapai 60 persen pemilih mu dan dan pemula, membuat Bawaslu Kaltim berusaha keras mensosialisasikan tolak politik uang.

“Maka kami wajib membentengi mereka, terus mensosialisasikan bahayanya politik uang ketika digunakan dalam momentum pemilu maupun pilkada,” ujar Galeh ditemui Rabu (11/9) siang.

Galeh menambahkan, Bawaslu Kaltim serta Bawaslu Kabupaten Kota gencar menggelar sosialisasi dengan target pemilih milenial dan gen Z.

Sosialisasi ini akan menyasar sedikitnya 200an lebih Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat di Kaltim. “Sekitar 203 lebih sekolah yang akan kita sadar, khususnya SMA, SMK, sederajat. Karena rata-rata siswa kelas 12 sudah masuk usia pemilih,” lanjut Galeh.

Selain Gen Z, Bawaslu di Kaltim juga menyasar sedikitnya 33 Perguruan Tinggi (PT) di Kaltim guna menggaet pemilih milenial. “Ada 33 PT lebih yang sudah terdaftar untuk kita sosialisasi. Ini formula kita untuk mengkampanyekan bahaya politik uang,” tegasnya.

Galeh berharap, pemilih milenial dan Gen Z yang mendapatkan sosialisasi tolak politik uang ini bisa berperan aktif menyebarkan luaskan informasi yang didapat. “Harapannya, pemilih muda dan pemilih pemula yang sudah mendapatkan informasi ini, bisa menyebarkan luaskan informasi serupa ke teman-temannya, keluarga, lingkungan sekitar dan lain-lain agar gerakan ini menjadi lebih masif di masyarakat,” tutup Galeh Akbar Tanjung. (ADV)