Loadingtea

NUSSA.CO, BALIKPAPAN – Upaya panjang Pemerintah Kota Balikpapan dalam menekan penyebaran tuberkulosis (TB) mulai menunjukkan hasil nyata. Data Dinas Kesehatan Kota (DKK) mencatat, hingga pertengahan 2025 jumlah kasus TB berada di angka 1.572 pasien. Angka ini turun signifikan jika dibandingkan dengan total kasus pada 2024 yang mencapai 2.783 kasus. Kendati demikian, DKK Balikpapan menilai penurunan ini tidak boleh membuat masyarakat lengah, karena penularan masih berpotensi terjadi di lingkungan keluarga.

Kepala DKK Balikpapan, Alwiati, menyampaikan bahwa turunnya kasus ini merupakan buah dari rangkaian langkah intervensi yang dilakukan sejak awal tahun, terutama dalam hal pemeriksaan dini, penguatan edukasi kesehatan, serta pemantauan langsung di lapangan. Menurutnya, keberhasilan menekan angka kasus hanya dapat dipertahankan melalui kepatuhan warga dalam pemeriksaan rutin.

Untuk tahun 2025, DKK Balikpapan menargetkan pemeriksaan terhadap 3.000 orang dari populasi berisiko, seperti masyarakat yang tinggal di lingkungan padat penduduk, kontak erat pasien TB, dan kelompok keluarga rentan. Namun hingga Agustus, capaian pemeriksaan baru mencapai sekitar 1.500 orang, atau 50 persen dari target tahunan.

Guna mengejar percepatan, tenaga kesehatan kini tidak lagi mengandalkan kedatangan warga ke puskesmas. Mereka turun langsung ke rumah warga, melakukan pemeriksaan awal, konseling medis, sekaligus menyampaikan edukasi terkait pola hidup sehat untuk mencegah penularan. Dalam beberapa kasus, pasien juga diberikan makanan tambahan demi membantu pemulihan selama menjalani pengobatan.

Selain menekan angka penularan, DKK turut menyoroti ancaman TB terhadap tumbuh kembang anak. Berdasarkan data nasional Kementerian Kesehatan, terdapat 138.649 kasus TB anak di Indonesia. Karena itu, Alwiati mengingatkan orang tua agar lebih aktif melakukan pemeriksaan dini ke puskesmas, terutama jika anak menunjukkan gejala batuk berkepanjangan.

Ia menegaskan bahwa TB bukan hanya menular, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas hidup anak dalam jangka panjang, bahkan dapat memicu risiko stunting apabila tidak segera ditangani. (Adv)