Loadingtea

Ketika Asa dan Sinergi Berpadu di Garis Depan

Adu peluh, berjibaku di bawah terik matahari melawan si Jago Merah, memang laga sengit. Tapi, tahukah Anda, ternyata fight sesungguhnya bagi Badan Penanggulanganan Bencana Daerah (BPBD), Damkar dan tim gabungan di Tolitoli adalah menyadarkan warga tentang ancaman dan dampak Kebakaran Hutan dan Lahan, (Karhutla).

Seperti apa cara fight mereka ?

( Ahmad Hamdani/nussa.co)

Di bawah terik matahari yang menyengat dan hembusan angin musim kemarau yang kerap membawa ancaman senyap, hutan dan lahan di Kabupaten Tolitoli menyimpan kerentanan.

Cuaca ekstrem yang tidak menentu belakangan ini menjadi lonceng peringatan dini bagi keselamatan ekosistem serta permukiman warga.

Menyadari bahaya yang mengintai di balik keringnya ilalang dan semak belukar, langkah-langkah taktis langsung digeliatkan. Pada Jumat, 28 Agustus 2026, sebuah pemandangan solid terlihat di Kecamatan Baolan.

Aparat gabungan dari berbagai unsur melebur menjadi satu: berseragam loreng bersama anggota Kodim, berjibaku dengan petugas Pemadam Kebakaran (Damkar), hingga berkoordinasi erat dengan jajaran BPBD Kabupaten Tolitoli.

Kelihatannya memang seperti acara seremoni, tetapi bagi Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Tolitoli, Abdullah Haruna, penanganan bencana terbaik bukanlah sekadar memadamkan api yang telanjur berkobar, melainkan meredam potensi bahaya sejak sebelum ia membesar.

Pendekatan yang dipilih pun bukan sekadar patroli dingin di balik kemudi kendaraan operasional, melainkan menyapa langsung denyut kehidupan masyarakat di akar rumput.

Hari itu, deru kendaraan petugas menyusuri jalanan menuju Desa Bajugan dan Desa Aung. Di perkampungan tersebut, petugas turun dari kendaraan, menyapa warga dengan senyuman, lalu duduk bersama merajut dialog. Mereka membawa misi penting: mengedukasi masyarakat bahwa menjaga tanah leluhur dari kobaran api adalah tanggung jawab bersama.

“Keterlibatan aktif masyarakat sangat krusial dalam pencegahan Karhutla. Kami mengimbau agar warga tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, serta segera melaporkan kepada aparat jika menemukan indikasi atau percikan api sekecil apa pun,” tutur Abdullah Haruna di hadapan warga dengan nada persuasif.

Di lapangan, filosofi pencegahan diterapkan tanpa kompromi. Aparat mengedepankan prinsip deteksi dini (early detection) dan langkah pencegahan proaktif. Setiap jengkal kawasan yang dinilai rawan tak luput dari pengamatan ketat tim gabungan.

Upaya humanis berbalut kesiapsiagaan ini bukan sekadar soal melindungi pepohonan hijau atau hamparan kebun produktif semata. Di balik itu semua, ada napas lega ribuan warga Tolitoli yang dilindungi dari ancaman asap pekat dan amukan api yang bisa merenggut hasil jerih payah mereka dalam hitungan menit.

Melalui kolaborasi erat antara pemerintah, aparat, dan kesadaran masyarakat yang kian terbangun, Kabupaten Tolitoli membuktikan bahwa ketangguhan menghadapi bencana lahir dari kepedulian yang dirawat bersama dari hari ke hari.

Bravo BPBD, Damkar dan semua unit tim gabungan yang perduli terhadap daerah ini, Kota Cengkeh, Kabupaten Tolitoli. Kalian luar biasa. (**)