Loadingtea

Insting Alami Sisir Sungai, Lutut Gemetar Bekal Habis

Harapan sempat menipis bagi Moh. Agil (21) dan Moh. Rifal (18) saat jejak kaki mereka hilang di rimbunnya hutan Gunung Galang.

Namun semesta berkata lain. Setelah melalui malam panjang mencekam, melewati lembah, menyusuri aliran sungai, minus perbekalan, keduanya ditemukan selamat. Air mata sedih dan bahagia tercurah.

Ahmad Hamdani, Tolitoli

LANGKAH kaki yang sudah gemetar membawa mereka tiba di sebuah perkebunan di Dusun Malempak, Desa Dadakitan. Teriakan minta tolong yang nyaris hilang karena kelelahan akhirnya didengar oleh seorang petani setempat. Sosok petani inilah yang menjadi “malaikat penolong” bagi kedua pemuda ini, segera merangkul dan membawa mereka ke rumah warga untuk mendapatkan perawatan pertama.

Kisah pilu ini berakhir bahagia. Bantuan darurat langsung diberikan, makan dan minum. Saat ini, foto-foto mereka yang tengah beristirahat sambil menyantap makanan sederhana di rumah warga menjadi bukti nyata betapa berharganya sebuah keselamatan.

Kini, di bawah atap rumah warga yang hangat, Agil dan Rifal sedang memulihkan tenaga. Sebuah pengingat keras bagi kita semua bahwa alam selalu menuntut kesiapan, namun kemanusiaan selalu punya cara untuk menyelamatkan.

“Kami sangat bersyukur kepada Allah SWT, warga kami selamat, terimakasih doa semua orang, terimakasih bantuan aparat tim gabungan, Yang lebih penting lagi ini harus jadi pelajaran, jangan sembrono, lapor keluarga, teman atau aparat jika ingin mendaki,” ungkap Kepala Desa Lakatan Sadli S.Sos kepada media ini.

Sementara itu, Moh. Agil (21) dan Moh. Rifal (18) sedikit mengisahkan, puncak Gunung Galang di Desa Kinopasan awalnya adalah sebuah destinasi untuk menantang diri.

Namun, apa yang dimulai sebagai petualangan, dalam sekejap berubah menjadi ujian hidup dan mati ketika rimbunnya hutan tropis Tolitoli perlahan “menelan” jalur pendakian mereka.

Keadaan mulai berbalik arah saat kedua pemuda ini kehilangan orientasi jalan. Di tengah pepohonan yang rapat, kompas alami seolah tidak lagi berfungsi. Tanpa perbekalan yang tersisa di tas kerir mereka, pilihan menjadi sangat terbatas: diam dan menunggu, atau terus bergerak mencari tanda-tanda kehidupan.

Agil dan Rifal memilih untuk terus berjalan. Dengan sisa tenaga yang ada, mereka memutuskan untuk mengikuti insting tertua para pendaki yang tersesat: menyusuri aliran sungai. Sepanjang malam, di bawah rimbunnya kanopi hutan yang gelap gulita, suara gemericik air menjadi satu-satunya pemandu mereka di tengah kesunyian yang mencekam.

Rabu pagi (25/3/2026), fajar menyingsing di Dusun Malempak, Desa Dadakitan. Di sebuah area perkebunan milik warga yang masih berselimut kabut, seorang petani lokal dikagetkan oleh suara parau yang memecah keheningan pagi. Itu adalah suara teriakan minta tolong yang nyaris hilang karena kelelahan.

Kondisi Agil dan Rifal saat ditemukan sangat memprihatinkan. Tubuh mereka gemetar, pucat karena kedinginan, dan sangat lemah akibat dehidrasi serta perut yang kosong selama berjam-jam. Tanpa pikir panjang, sang petani segera merangkul kedua pemuda tersebut, menuntun langkah gontai mereka menuju pemukiman warga terdekat.

Sesampainya di rumah salah satu warga, suasana berubah haru. Tidak ada penghakiman, yang ada hanyalah kemanusiaan. Dalam sebuah foto yang beredar, terlihat Agil terduduk lesu di kursi kayu, mengenakan jaket kuning yang lusuh, sementara Rifal duduk di hadapan sepiring nasi hangat, sebuah kemewahan yang sangat mereka dambakan selama tersesat di hutan.

“Keduanya saat ini masih dalam proses pemulihan di rumah warga. Meski mengalami kelelahan yang luar biasa, syukur alhamdulillah keduanya dinyatakan selamat,” ucap syukur Fitrininhsih, tetangga keduanya.

Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi komunitas pecinta alam. Gunung bukan sekadar latar foto yang indah, tapi ekosistem yang menuntut kesiapan fisik dan mental yang matang. Persiapan logistik yang cukup dan pemahaman medan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.

Kini, Agil dan Rifal bisa bernapas lega. Mereka tidak hanya membawa pulang cerita tentang betapa kerasnya alam liar, tapi juga tentang kebaikan hati seorang petani dan warga Desa Dadakitan yang telah menyambung kembali tali nyawa mereka. (**)