Loadingtea

Kurangi Kesalahan Diagnosa TB hingga 90%

NUSSA.CO, BALIKPAPAN – Sebagai terobosan dalam pelayanan kesehatan, Puskesmas Karang Joang meluncurkan aplikasi TELETABIS (Temukan dan Eliminasi Tuberkulosis) untuk meningkatkan akurasi deteksi TB (Tuberkulosis) dan mempercepat hasil pemeriksaan. Inovasi ini dipimpin oleh Maria Ulfa, A.Md. Kes, seorang analis laboratorium di Puskesmas tersebut. Aplikasi ini diluncurkan untuk mengatasi tantangan dalam pengumpulan sampel yang sering kali tidak akurat, sehingga memperbaiki efektivitas Tes Cepat Molekuler (TCM).

“TELETABIS bertujuan meminimalkan kesalahan dalam pengambilan sampel dan memastikan kualitas sampel memenuhi standar laboratorium. Dengan ini, proses diagnosa TB dapat dilakukan lebih cepat dan akurat,” ungkap Maria Ulfa.

Sebanyak 60% sampel yang diterima laboratorium sebelumnya mengalami kesalahan, seperti volume yang tidak mencukupi atau sampel yang tumpah. Hal ini menyebabkan pengulangan hingga 80% dari sampel, yang memakan waktu dan biaya tambahan. Melalui TELETABIS, pasien mendapatkan panduan berupa video tutorial untuk pengambilan sampel yang benar, serta dapat memantau hasil pemeriksaan secara langsung dari aplikasi.

Menurut Maria, aplikasi ini juga dilengkapi dengan fitur skrining mandiri gejala TB dan akses langsung ke petugas kesehatan. Hasil pemeriksaan yang sebelumnya memakan waktu hingga lima hari kini dapat diperoleh dalam 1-2 hari, dengan tingkat kesalahan yang menurun drastis hingga hanya 5 kasus per tahun.

Sejak implementasi aplikasi TELETABIS, Puskesmas Karang Joang mencatat peningkatan signifikan dalam kualitas pelayanan kesehatan. Tingkat deteksi dini TB meningkat hingga 92%, memungkinkan pasien mendapatkan penanganan lebih cepat. “TELETABIS membantu kami mempercepat diagnosa dan meningkatkan tingkat keberhasilan pengobatan,” ujar dr. Agus Jiwani, Kepala UPTD Puskesmas Karang Joang.

Dukungan juga datang dari Kepala Dinas Kesehatan Balikpapan, Dra. Alwiati, yang menyebut aplikasi ini sebagai langkah nyata dalam mendigitalisasi layanan kesehatan. “TELETABIS menjadi model inspiratif untuk diterapkan di puskesmas lainnya. Inovasi ini membuktikan bahwa teknologi mampu memberikan dampak besar bagi kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Keberhasilan TELETABIS tidak lepas dari kerja sama lintas profesi di Puskesmas Karang Joang, termasuk dokter, perawat, dan tenaga promosi kesehatan. Program ini juga melibatkan klinik-klinik mandiri melalui nota kesepahaman (MoU) untuk memperluas jangkauan pelayanan.

Puskesmas Karang Joang berkomitmen terus meningkatkan pelayanan dengan memanfaatkan teknologi digital, menjadikan TELETABIS sebagai inspirasi bagi puskesmas lain di Indonesia. “Inovasi ini tidak hanya mempercepat deteksi TB, tetapi juga menjadi langkah besar dalam membangun sistem kesehatan berbasis teknologi yang lebih inklusif,” tutup Maria Ulfa. (Adv/day)