Loadingtea

NUSSA.CO, SAMARINDA — Tahun ajaran baru biasanya identik dengan beban pengeluaran besar bagi orang tua siswa. Mulai dari membeli seragam, tas, sepatu hingga perlengkapan sekolah lainnya. Namun kondisi itu mulai berubah di Kalimantan Timur.

Melalui program Gratispol, Pemerintah Provinsi Kaltim menggelontorkan anggaran sekitar Rp65 miliar untuk membagikan perlengkapan sekolah gratis kepada sekitar 65 ribu siswa baru SMA, SMK, dan SLB di seluruh kabupaten dan kota.

Program tersebut kini mulai dirasakan langsung manfaatnya oleh para pelajar. Tak sekadar seragam sekolah, siswa menerima satu paket perlengkapan lengkap mulai dari pakaian putih abu-abu, hijab bagi siswi muslimah, tas sekolah, sepatu, topi, dasi, ikat pinggang hingga kaos kaki.

Mayoritas siswa mengaku bantuan tersebut cukup meringankan beban keluarga mereka di tengah tingginya biaya pendidikan.

Siswi SMAN 16 Samarinda, Maliqa Nuur Shafa Sufiana mengaku cukup terkejut dengan kualitas perlengkapan yang diterimanya.

Menurutnya, bahan seragam bantuan pemerintah justru terasa lebih nyaman dibanding pakaian sekolah yang sebelumnya dimiliki. “Bahannya adem dan enak dipakai,” ujarnya.

Ia mengatakan proses pendataan ukuran dilakukan langsung oleh sekolah saat awal masuk tahun ajaran baru. Meski sempat menerima model seragam yang tidak sesuai, proses penukaran berjalan tanpa kendala berarti. “Awalnya dapat lengan pendek, tapi beberapa minggu kemudian langsung diganti,” katanya.

Selain seragam, tas dan sepatu bantuan juga digunakan sehari-hari untuk aktivitas sekolah. Hanya saja, desain yang seragam membuat beberapa siswa kesulitan membedakan barang miliknya dengan milik teman lain. “Kalau tas masih bisa dihias supaya beda. Tapi sepatu hampir sama semua,” ujarnya sambil tertawa.

Cerita serupa datang dari Christian Naek Hamonangan Tambun, siswa SMAN 16 Samarinda lainnya. Ia mengaku sempat menerima sepatu dengan ukuran yang terasa lebih besar meskipun nomor yang dikirim sesuai data awal.

Namun masalah itu diselesaikan secara sederhana dengan bertukar sepatu bersama teman sekolahnya. “Saya tukar sama teman yang ternyata sepatunya kekecilan,” katanya.

Terlepas dari persoalan ukuran, Christian tetap menilai program tersebut sangat membantu siswa. “Semua barang kepakai. Tasnya ringan, sepatu nyaman, bajunya juga bagus,” ujarnya.

Sementara itu, siswa SMAN 14 Samarinda, Satria Jibril Surya Susanto mengaku orang tuanya merasa cukup terbantu karena tidak perlu lagi membeli perlengkapan sekolah secara lengkap. “Orang tua senang karena banyak kebutuhan sekolah yang sudah ditanggung,” katanya.

Di sisi lain, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim memastikan distribusi bantuan berjalan sesuai target.

Penelaah Teknis Kebijakan sekaligus PPTK Disdikbud Kaltim, Priangga mengatakan pemerintah sejak awal memang menekankan kualitas produk agar benar-benar nyaman digunakan siswa dalam jangka panjang.

Menurutnya, seluruh produk telah melalui proses pengujian laboratorium, mulai dari bahan seragam hingga kualitas tas dan sepatu. “Kami tidak ingin hanya mengejar murah, tapi kualitas barangnya juga harus bagus,” ujarnya.

Ia menjelaskan, angka Rp1 juta yang selama ini ramai dibicarakan publik merupakan nilai pagu maksimal per paket, bukan harga final barang yang dibeli pemerintah.

Nilai kontrak akhir disebut berada di bawah pagu setelah melalui proses penyusunan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) dan negosiasi dengan penyedia. “Jadi bukan berarti satu paket itu harganya tepat Rp1 juta,” jelasnya.

Priangga juga mengungkapkan jumlah keluhan terkait barang tertukar maupun ukuran yang tidak sesuai tergolong sangat kecil dibanding total distribusi puluhan ribu paket bantuan.

Dari sekitar 60 ribu paket yang dibagikan, retur disebut tidak sampai 100 paket dan seluruhnya sudah ditangani melalui layanan after sales yang disiapkan pemerintah. “Kalau ada ukuran salah, barang rusak, atau isi paket tertukar semuanya bisa diganti,” katanya.

Produksi perlengkapan sekolah sendiri dilakukan di luar Kalimantan Timur karena belum tersedia industri konveksi lokal dengan kapasitas produksi massal dalam waktu singkat.

Meski demikian, program Gratispol dinilai mulai memberi dampak nyata bagi masyarakat, terutama dalam menekan biaya pendidikan saat tahun ajaran baru dimulai. (*/day)