Ketua DPRD Kaltim Kritik Nol Kontribusi PAD dari STS Muara Berau: “Omzet Besar, Tapi Tak Sumbang Sepeser pun”
NUSSA.CO, SAMARINDA — Ketua DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Hasanuddin Mas’ud, melontarkan kritik keras terhadap minimnya kontribusi kegiatan Ship-to-Ship (STS) di Muara Berau terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Padahal, terminal alih muat tersebut disebut sebagai salah satu pelabuhan terapung terbesar di Asia Tenggara.
“Saya heran, kenapa STS yang termasuk salah satu pelabuhan terapung terbesar di Asia Tenggara ini tidak menghasilkan satu rupiah pun untuk PAD Kaltim,” ungkap Hasanuddin, Sabtu, (3/5/2025).
Politikus Partai Golkar itu menyayangkan potensi ekonomi besar dari kegiatan STS yang hingga kini belum dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan daerah.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi Kaltim seharusnya tidak tinggal diam menyikapi fakta bahwa pelabuhan yang strategis itu tidak memberi manfaat fiskal.
Muara Berau, yang selama ini menjadi titik sentral pengalihan muatan batu bara dan bahan bakar antar kapal, ternyata beroperasi tanpa kontribusi signifikan terhadap kas daerah.
Hal ini, menurut Hasanuddin, disebabkan oleh tidak adanya regulasi daerah yang mengatur secara spesifik aktivitas STS tersebut.
“Harus ada rekomendasi dari Pemprov Kaltim, baru kemudian bisa dilanjutkan dengan peraturan daerah (Perda),” ujarnya.
Ia bahkan menyebutkan opsi ekstrem berupa pemindahan kegiatan STS ke Kalimantan Selatan, jika memang terus-menerus tidak memberi keuntungan untuk daerah.
“Kalau memang tidak memberi manfaat ekonomi bagi Kaltim, lebih baik dipindahkan saja,” tambahnya.
Hasanuddin menyatakan pihaknya telah meminta Gubernur Kaltim untuk mencari solusi konkret agar kegiatan STS bisa menyumbang PAD.
Ia mendorong agar Pemprov segera menyusun regulasi teknis yang memungkinkan pemungutan retribusi atau bentuk pendapatan lain dari aktivitas tersebut.
“Ini peluang besar. Jika dikelola dengan baik, STS bisa menjadi sumber pendapatan baru untuk mendukung pembangunan daerah,” tandasnya. (ADV)
Tinggalkan Balasan