Loadingtea

NUSSA.CO, BALIKPAPAN – Menghadapi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Balikpapan 2024, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Balikpapan terus memperkuat upaya sosialisasi, khususnya kepada pemilih pemula. Anggota Komisioner KPU Balikpapan, Suhardy, yang membawahi Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM, menyampaikan pentingnya memberikan edukasi yang tepat kepada pemilih pemula, terutama mengingat mereka sering mendapatkan informasi dari berbagai media sosial yang tidak selalu akurat.

“Pemilih pemula ini sangat rentan terhadap informasi yang beredar di media sosial. Banyak dari mereka yang lebih mudah terpengaruh oleh isu-isu emosional dibandingkan rasional. Oleh karena itu, kami di KPU Balikpapan merasa perlu untuk intensif memberikan edukasi pengetahuan dasar agar mereka bisa memahami pentingnya memberikan hak pilih mereka dan bagaimana cara menggunakan hak tersebut secara bijaksana, pada Pilkada Balikpapan” ujar Suhardy, Sabtu (21/9/2024)

Suhardy menjelaskan bahwa KPU Balikpapan telah meluncurkan beberapa inisiatif strategis untuk menjangkau pemilih pemula, salah satunya adalah program Go to School dan Go to Campus. Program ini dirancang untuk memberikan pengetahuan dasar seputar pemilu, mulai dari hak pilih, pentingnya partisipasi, hingga bagaimana memilih secara cerdas berdasarkan informasi yang benar.

Anggota KPU Balikpapan, bidang Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM, Suhardy

“Kami datang langsung ke sekolah-sekolah dan kampus-kampus untuk memberikan sosialisasi kepada pemilih pemula. Kami ingin memastikan bahwa mereka benar-benar memahami hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara, dan mengapa partisipasi mereka dalam Pilkada sangat penting untuk masa depan mereka dan bangsa ini,” tambah Suhardy.

Dalam kesempatan tersebut, Suhardy juga menekankan bahwa pemilih pemula tidak hanya terdiri dari mereka yang baru berusia 17 tahun, tetapi juga para pensiunan TNI dan Polri yang baru pertama kali menggunakan hak pilihnya. “Pemilih pemula bukan hanya anak-anak muda, tetapi juga para pensiunan yang baru pertama kali berpartisipasi dalam pemilu. Mereka juga membutuhkan sosialisasi yang tepat agar dapat memahami proses pemilihan,” katanya.

Suhardy mengakui bahwa salah satu tantangan besar yang dihadapi oleh KPU adalah menghadapi skeptisisme di kalangan pemilih muda. Banyak dari mereka yang merasa apatis atau tidak percaya pada sistem politik dan calon pemimpin yang ada. Untuk itu, KPU Balikpapan berupaya memberikan informasi yang jelas dan netral, serta mendorong partisipasi dengan memberikan contoh-contoh dampak nyata dari pemilu terhadap kehidupan sehari-hari mereka.

“Banyak pemilih pemula yang merasa apatis, dan ini bisa dimaklumi karena mereka sering mendapatkan informasi yang tidak tepat. Namun, melalui sosialisasi ini, kami berharap bisa mengubah pandangan mereka. Kami ingin mereka sadar bahwa Pilkada adalah kesempatan mereka untuk memilih pemimpin yang dapat membawa perubahan positif,” jelasnya.

Selain mengadakan sosialisasi langsung, KPU Balikpapan juga melibatkan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS) dalam upaya ini. PPK dan PPS diberi mandat untuk melakukan sosialisasi di wilayah-wilayah masing-masing dengan menyesuaikan metode yang paling relevan dengan kondisi setempat.

“Kami melibatkan PPK dan PPS untuk membantu sosialisasi, karena mereka lebih dekat dengan masyarakat. Mereka memiliki kewajiban untuk melakukan sosialisasi, baik di sekolah, komunitas agama, atau kelompok-kelompok lainnya. Kami berharap dengan adanya keterlibatan ini, jangkauan sosialisasi akan lebih luas dan efektif,” lanjutnya.

Salah satu pesan penting yang disampaikan oleh Suhardy dalam sosialisasi kepada pemilih pemula adalah pentingnya menggunakan hak pilih. Menurutnya, golput atau tidak menggunakan hak suara sama sekali adalah tindakan yang tidak keren dan justru merugikan diri sendiri.

“Gak nyoblos itu gak keren. Setiap suara itu penting, dan pemilih pemula, terutama generasi milenial dan Gen Z, memiliki porsi yang sangat besar dalam pilkada. Jika mereka tidak menggunakan hak pilih mereka, itu sama saja membiarkan orang lain yang menentukan masa depan mereka,” tegas Suhardy.

Berdasarkan data Pemilu 2024, di Februari lalu, Suhardy mengungkapkan bahwa kelompok milenial dan Gen Z menyumbang sekitar 59 persen dari total pemilih di Balikpapan. “Artinya, mereka adalah kelompok yang paling berpengaruh dalam menentukan hasil pemilu. Jika mereka tidak memilih, mereka kehilangan kesempatan untuk menentukan siapa yang akan memimpin daerah dan negara ini,” katanya.

KPU Balikpapan berharap melalui sosialisasi yang intensif, pemilih pemula dapat lebih memahami pentingnya partisipasi mereka dalam Pilkada dan mampu menggunakan hak pilihnya dengan bijak, sehingga Pilkada 2024 dapat berjalan lebih inklusif dan demokratis. (*/yes)