Loadingtea

NUSSA.CO, TOLITOLI — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Tolitoli kembali menorehkan langkah progresif dalam mengawal pesta demokrasi. Lembaga penyelenggara pemilu tersebut menggelar sosialisasi dan pendidikan pemilih bertajuk “Satu Suara, Satu Hak, Setara dalam Demokrasi, Penguatan Pendidikan Pemilih Berkelanjutan bagi Pemilih Disabilitas”, Kamis (13/8/2026).

Kegiatan ini menjadi momentum penting sekaligus babak baru bagi pelaksanaan pemilu di Bumi Tadulako. Pasalnya, acara ini tercatat sebagai sosialisasi khusus penyandang disabilitas pertama yang dilaksanakan di tingkat Kabupaten/Kota se-Sulawesi Tengah.
Acara yang dihelat dengan penuh antusiasme ini dibuka secara resmi oleh Ketua KPU Kabupaten Tolitoli, Junaidi. Dalam sambutannya, Junaidi memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada seluruh peserta disabilitas yang hadir. Ia menegaskan bahwa dalam negara demokrasi yang berlandaskan konstitusi, tidak ada strata atau pembedaan kualitas suara antarwarga negara.

“Suara itu tidak ditentukan oleh bentuk tubuh atau kelengkapan fisik. Tidak ada satu pun warga negara di Indonesia ini yang memiliki kualitas suara lebih dari yang lain, baik Presiden, Gubernur, Bupati, maupun warga lainnya, masing-masing hanya memiliki satu hak suara,” tegas Junaidi.

Ia juga memaparkan komitmen negara terhadap perlindungan hak-hak penyandang disabilitas yang telah diatur secara tegas dalam Pasal 350 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Regulasi tersebut mewajibkan Tempat Pemungutan Suara (TPS) didesain agar mudah dijangkau dan ramah bagi penyandang disabilitas.
Selain itu, regulasi teknis melalui Peraturan KPU (PKPU) turut mengamanatkan penyediaan sarana pendukung khusus, seperti penyesuaian tinggi meja pencoblosan demi memberikan kenyamanan maksimal bagi pemilih disabilitas saat menyalurkan hak suaranya.

Sementara itu, Anggota KPU Tolitoli Divisi Sosialisasi dan Partisipasi Pemilih, Warman Maulana, menjabarkan bahwa, penyandang disabilitas memiliki posisi dan hak yang sangat krusial dalam menentukan arah demokrasi.

Melalui langkah pionir ini, pihaknya optimis angka partisipasi pemilih dari kalangan disabilitas akan melonjak signifikan pada pemilu mendatang. “Kegiatan sosialisasi penyandang disabilitas ini adalah yang pertama kali dilakukan di Sulawesi Tengah. Kami berharap partisipasi pemilih bisa bertambah di pemilu mendatang, karena keberadaan penyandang disabilitas juga punya hak yang sama dan setara dengan pemilih lain,” ujar Warman.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, dosen Fakultas Hukum Universitas Madako, Warda Said, menyoroti esensi keberagaman dalam mengukur kesehatan sebuah sistem demokrasi.

“Kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh berapa jumlah pemilih yang berpartisipasi, tetapi juga ditentukan oleh beragamnya pemilih dalam pelaksanaan demokrasi tersebut. Kehadiran dan partisipasi Bapak/Ibu sekalian sebagai penyandang disabilitas adalah bagian penting dari demokrasi yang berkualitas,” ungkap Warda.

Warda juga mengajak para peserta mengenang kembali rekam sejarah bangsa Indonesia yang pernah dipimpin oleh Presiden ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) — seorang tokoh bangsa penyandang disabilitas tunanetra. Di masa kepemimpinan Gus Dur, fondasi kuat terhadap kesetaraan dan inisiasi layanan pendidikan khusus lahir dan berdampak besar hingga hari ini.
Berdasarkan pantauan di lokasi, para peserta undangan yang berasal dari berbagai komunitas disabilitas di Tolitoli mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh semangat dan antusias hingga acara tuntas.

Sebagai wujud apresiasi, acara ditutup dengan penyerahan cenderamata secara simbolis kepada para tamu undangan penyandang disabilitas. Penyerahan dilakukan langsung oleh jajaran Komisioner KPU Tolitoli serta perwakilan sekretariat yang diwakili oleh Plt. Sekretaris KPU Tolitoli, Ovelio Layuk.

Melalui kegiatan sarat kepedulian dan kesetaraan ini, KPU Tolitoli berharap para penyandang disabilitas semakin percaya diri, tidak ragu menggunakan hak pilih, serta turut andil secara aktif dalam menentukan masa depan daerah dan bangsa. (ham)