Loadingtea

NUSSA.CO, BALIKPAPAN – Lonjakan kasus tuberkulosis (TBC) di Kota Balikpapan menjadi sorotan serius DPRD. Hingga Agustus 2025, tercatat sekitar 3.000 kasus penyakit menular tersebut, bahkan ironisnya telah ditemukan menyerang balita berusia satu tahun. Kondisi ini dinilai memerlukan penanganan lebih agresif agar penyebaran tidak semakin meluas.

Anggota Komisi IV DPRD Balikpapan, H. Ryan Indra Saputra, menegaskan bahwa temuan ini sangat memprihatinkan. “TBC sudah mengenai anak usia satu tahun. Ini bukan masalah biasa, melainkan ancaman serius kesehatan masyarakat. Jika tidak segera ditangani, risikonya bisa semakin besar,” ujarnya usai Rapat Paripurna di Gedung Parkir Klandasan, Selasa (26/8/2025).

Menurutnya, DPRD segera melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan untuk memastikan langkah pencegahan dan penanganan berjalan lebih terarah. Salah satu opsi yang diusulkan adalah memperkuat peran Posyandu melalui kegiatan penyuluhan rutin hingga kemungkinan pemberian vaksin TBC.

“Kami akan mendorong penyuluhan kesehatan di semua Posyandu, agar masyarakat tahu cara pencegahan sejak dini. Bahkan kalau memungkinkan, vaksinasi TBC bisa dipertimbangkan. Ini penting demi melindungi anak-anak yang rentan,” jelasnya.

Ryan juga mengungkapkan, Komisi IV DPRD dalam waktu dekat akan memanggil DKK Balikpapan untuk menggelar rapat dengar pendapat (RDP). Forum ini akan difokuskan membahas strategi konkret dalam menekan angka kasus TBC, termasuk evaluasi program yang sudah dijalankan serta rencana pengadaan vaksin.

Ia menambahkan, DPRD sebenarnya sudah mendukung penganggaran untuk penanganan penyakit menular, termasuk TBC dan kanker serviks. Namun ia menekankan pentingnya memastikan program tersebut benar-benar sampai ke masyarakat. “Sosialisasi harus diperkuat. Jangan hanya program di atas kertas, tapi manfaatnya tidak terasa di lapangan,” tegasnya.

Selain penyuluhan dan vaksinasi, Ryan juga menyoroti pentingnya kampanye masif soal pola hidup bersih dan sehat. Edukasi tentang bahaya TBC, cara penularan, serta langkah pencegahannya harus bisa dipahami masyarakat, mengingat penyakit ini menular melalui udara dan dapat menyerang siapa saja tanpa pandang usia.

“Balikpapan ini kota besar dengan mobilitas tinggi. Kalau pencegahan tidak dilakukan, kasus bisa bertambah cepat. Maka semua pihak harus bergerak, tidak hanya pemerintah, tapi juga masyarakat,” pungkasnya. (Adv)