Loadingtea

NUSSA.CO, BALIKPAPAN – Harga LPG 3 kg di Balikpapan melonjak drastis hingga Rp 80.000 per tabung, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang seharusnya berkisar Rp 20.000–Rp 22.000. Kenaikan ini diduga akibat permainan distribusi oleh oknum pangkalan dan pengecer yang sengaja menahan stok dan menjualnya secara bertahap. Kondisi ini membuat masyarakat, terutama kalangan ekonomi menengah ke bawah, kesulitan mendapatkan LPG bersubsidi dengan harga wajar.

Sekretaris Komisi II DPRD Balikpapan, Taufik Qul Rahman, menegaskan bahwa berdasarkan data, pasokan LPG di kota ini sebenarnya mencukupi. Gas didistribusikan melalui 11 agen resmi ke 794 pangkalan dengan jumlah yang seharusnya mampu memenuhi kebutuhan warga. Setiap pangkalan menerima sekitar 694 tabung per bulan, namun di lapangan harga tetap melonjak karena dugaan praktik curang oleh pihak tertentu.

“Jika dihitung, jumlah pangkalan dan tabung yang didistribusikan seharusnya cukup. Masalahnya ada di sistem distribusi yang harus diawasi lebih ketat,” ujar Taufik.

DPRD mencurigai ada pangkalan yang sengaja menahan stok agar LPG menjadi langka, lalu menjualnya dengan harga lebih tinggi kepada pengecer. Akibatnya, harga LPG di tingkat pengecer tidak terkendali dan merugikan masyarakat.

Untuk mengatasi hal ini, DPRD Balikpapan mendesak Pertamina dan Dinas Perdagangan agar memperketat pengawasan di tingkat pangkalan dan pengecer. Pangkalan yang terbukti menyalahi aturan harus diberikan sanksi tegas, termasuk pencabutan izin usaha jika diperlukan.

Selain itu, DPRD mengusulkan penerapan sistem pengawasan berbasis digital agar distribusi lebih transparan. Masyarakat juga diimbau untuk melaporkan jika menemukan harga LPG yang tidak sesuai dengan HET.

Dengan pengawasan ketat dan penindakan tegas terhadap pelaku kecurangan, diharapkan harga LPG 3 kg dapat kembali stabil dan masyarakat tidak lagi kesulitan mendapatkan gas bersubsidi dengan harga terjangkau. (Adv)