Kelurahan Margo Mulyo Perkuat Upaya Cegah DBD, Fogging Bukan Solusi Utama
NUSSA.CO, BALIKPAPAN – Kelurahan Margo Mulyo, Balikpapan Barat, terus mengintensifkan langkah-langkah pencegahan untuk menekan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang sempat dilaporkan di beberapa RT. Meski fogging atau pengasapan masih dilakukan, metode ini bukanlah langkah utama yang diandalkan oleh pihak kelurahan.
Lurah Margo Mulyo, Aji Syarifah Nur Alifah, menegaskan bahwa fogging hanya dilakukan berdasarkan permintaan RT setempat dan jika telah ditemukan kasus DBD di wilayah tersebut. Menurutnya, fogging bukan solusi utama, melainkan langkah terakhir setelah upaya pencegahan lain dijalankan. “Kami hanya melakukan fogging jika ada permintaan dari RT dan setelah terjadi kasus DBD. Fogging itu solusi darurat, bukan pencegahan utama,” jelasnya pada Sabtu (15/3/2025).
Ia menekankan bahwa cara terbaik untuk menekan penyebaran nyamuk Aedes aegypti adalah dengan menerapkan gerakan 5M. Gerakan ini meliputi Menguras tempat penampungan air, Menutup wadah air, Mendaur ulang barang bekas, Menghindari gigitan nyamuk, serta Memantau jentik nyamuk secara rutin. “Kalau masyarakat disiplin menerapkan 5M, penyebaran nyamuk bisa terkendali tanpa harus bergantung pada fogging,” ujarnya.
Terkait jumlah kasus DBD, Syarifah mengungkapkan bahwa beberapa waktu terakhir ditemukan tiga kasus DBD di wilayahnya, masing-masing dua kasus di RT 38 dan 39, serta satu kasus di RT 12.
Sebagai langkah pencegahan tambahan, pihak kelurahan gencar mengadakan edukasi dan sosialisasi yang melibatkan puskesmas dan kader kesehatan. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan langkah pencegahan sejak dini. “Kami berupaya mendukung kegiatan puskesmas dengan menyosialisasikan cara pencegahan DBD secara langsung kepada warga,” tambahnya.
Selain itu, pihak kelurahan masih membagikan abate sebagai bahan pembasmi jentik nyamuk kepada warga untuk digunakan di tempat penampungan air. Meski metode kelambu air kini jarang digunakan, pihak kelurahan tetap menganjurkan warga untuk mempertimbangkannya sebagai langkah tambahan. “Abate masih kami bagikan agar warga bisa menggunakannya di penampungan air. Sedangkan kelambu air memang sudah mulai jarang dipakai, tapi tetap kami sarankan jika memungkinkan,” katanya.
Melalui sinergi antara kelurahan, puskesmas, dan masyarakat, diharapkan kasus DBD di wilayah Margo Mulyo dapat dikendalikan dengan lebih efektif. Pihaknya pun terus mengimbau warga untuk lebih disiplin menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan pola hidup sehat agar penyebaran DBD dapat dicegah sejak dini. (Adv/DiskominfoBpp)
Tinggalkan Balasan