DKK Balikpapan Fokus Tangani Lonjakan Stunting yang Capai 21,6 Persen
NUSSA.CO, BALIKPAPAN – Angka stunting di Kota Balikpapan mengalami peningkatan signifikan, naik dari 19,6 persen menjadi 21,6 persen berdasarkan data terbaru dari Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan. Peningkatan sebesar 2 persen ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah kota, yang kini berupaya keras untuk mengendalikan dan menurunkan angka tersebut.
Kepala DKK Balikpapan, Alwiati, mengungkapkan bahwa berbagai program dan langkah strategis telah disiapkan untuk menangani masalah ini. Salah satu upaya utama adalah melalui program pendampingan gizi dan pemberian makanan tambahan bagi keluarga yang anaknya terkena stunting. “Kami sedang berusaha sebaik mungkin untuk menurunkan angka stunting di Balikpapan. Program pendampingan dan pemberian makanan tambahan merupakan salah satu langkah awal yang kami jalankan,” ujarnya, Senin (2/9/2024)
Alwiati juga menyoroti pentingnya gizi yang baik pada ibu hamil dan menyusui sebagai langkah pencegahan utama terhadap stunting. “Kualitas ASI sangat dipengaruhi oleh gizi ibu. Jika ibu memiliki asupan gizi yang baik, bayi akan mendapatkan ASI berkualitas yang dapat mengurangi risiko stunting,” jelasnya.
Namun, masalah ini diperumit oleh gaya hidup dan pola asuh yang kurang tepat. Banyak ibu yang bekerja di Balikpapan menghadapi tantangan dalam memberikan ASI eksklusif, sehingga mempengaruhi kesehatan dan perkembangan anak. Selain itu, pemberian makanan tambahan terlalu dini kepada bayi menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka stunting. “Banyak ibu yang memberikan makanan tambahan pada bayi sebelum usia yang seharusnya, padahal hal ini seharusnya dihindari,” tambahnya.
Kendala lainnya adalah rendahnya partisipasi ibu hamil dalam mengonsumsi tablet penambah darah, yang seharusnya menjadi bagian penting dari asupan gizi selama kehamilan. “Banyak ibu hamil yang enggan mengonsumsi tablet penambah darah. Ini menyebabkan bayi lahir dengan kondisi kurang gizi, yang pada akhirnya meningkatkan risiko stunting,” terangnya.
Alwiati juga mengungkapkan bahwa rendahnya aktivitas posyandu di beberapa wilayah Balikpapan memperparah situasi ini. Posyandu merupakan salah satu fasilitas vital untuk memantau kesehatan ibu dan anak, namun sayangnya banyak yang tidak aktif. “Kami berharap posyandu-posyandu ini bisa kembali diaktifkan, sehingga masyarakat bisa lebih sering memeriksakan kesehatan anak mereka secara berkala,” jelas Alwiati.
Selain itu, DKK juga mengingatkan pentingnya persiapan gizi yang baik bagi calon pengantin wanita. Banyak remaja putri yang enggan mengonsumsi tablet tambah darah sebelum menikah karena takut mengganggu penampilan mereka. Padahal, ini sangat penting untuk mencegah stunting pada anak yang akan dilahirkan. “Gizi yang baik harus disiapkan sejak masa remaja, agar kehamilan nanti berjalan sehat dan bayi tidak mengalami kekurangan gizi,” tambahnya.
Ke depan, DKK Balikpapan berkomitmen untuk terus menjalankan program-program yang dapat menekan angka stunting, serta mengajak masyarakat untuk lebih sadar akan pentingnya gizi dan pola asuh yang tepat. (Adv)
Tinggalkan Balasan