Loadingtea

Normalisasi Sungai Lembe, Atasi 60 Persen Banjir di Tolitoli

NUSSA.CO, TOLITOLI – Tak ingin bencana banjir bandang 2017 kembali terulang, anggota DPRD Tolitoli Jemmy Yusuf bergegas meninjau sejumlah titik rawan banjir, salah satunya Sungai Lembe, Kelurahan Baru, Kecamatan Baolan, Selasa (18/03/2025) pagi.

“Kenapa ke Sungai Lembe, ternyata dari hasil analisis dan data yang ada, Sungai Lembe menyumbang 60 persen aliran banjir yang mengepung Kota Tolitoli dan sekitarnya. Nah, karena itu Sungai Lembe harus benar-benar ditangani serius. Ini darurat, perlu SOP kedaruratan dan harus segera ditangani sebelum bencana banjir 2017 kembali terulang,” ungkap Jemmy di hadapan pejabat OPD terkait seperti dari Dinas Pekerjaan Umum (PU), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Lurah Kelurahan Baru, Camat Baolan, dan OPD terkait lainnya, di lokasi peninjauan, Selasa (18/03/2025) pagi.

Lanjut Jemmy, dalam kondisi darurat saat ini, ditambah lagi curah hujan yang cukup tinggi, maka upaya penanganan yang perlu dilakukan secepatnya adalan normalisasi Sungai Lembe. Sebab, di sungai ini terjadi pendangkalan hebat akibat sedimentasi hulu sungai.

Jemmy menyarankan, meski di tengah kondisi upaya efesiensi secara nasional, solusi yang bisa ditempuh Pemkab Tolitoli adalah, memanfaatkan anggaran Belanja Tak Terdua (BTT), yang nilainya tidak lebih dari Rp 5 miliar.

“Sehingga, bupati selaku leader, pemangku kebijakan daerah, tentu diharapkan lebih sigap melakukan mitigasi bencana. Solusi cepatnya, optimalkan BTT tanpa harus meminta persetujuan DPRD, mengingat kondisi darurat,” saran Jemmy yang diamini puluhan warga Kelurahan Baru.

Selain soal normalisasi Sungai Lembe, Jemmy juga mengaku prihatin terhadap kondisi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mokopido yang kerap jadi langganan banjir.

“Saya gak bisa bayangkan, rumah sakit tergenang banjir, motor pun terendam, jadi berapa ketinggian banjir saat itu. Lalu, ada warga yang sakit butuh perawatan serius tim medis, tapi terhalang banjir, akses terputus. Dan ini bukan satu dua kali, sudah sering terjadi. Jadi, kami di DPRD berharap, solusi cepat, lakukan normalisasi, optimalkan BTT, lalu langkah berikutnya kita revitalisasi dari hulu ke hilir, termasuk clearing area bantaran sungai dari bangunan pemukiman,” urainya.

Setelah kondisi darurat dengan normalisasi sungai, lanjut Jemmy, merevitalisasi bantaran sungai tidak hanya dengan men-clearkan dari pembangunan pemukiman, tetapi juga dengan menjaga kelestarian lingkungan serta penghijauan.

Untuk diketahui, maksud dari BTT adalah, anggaran yang digunakan untuk mengantisipasi pengeluaran mendadak dan tidak terduga, seperti bencana alam, termasuk banjir.

BTT dapat digunakan untuk kegiatan tanggap darurat bencana banjir, seperti penyelamatan korban, evakuasi, penyediaan kebutuhan dasar (makanan, air bersih, tempat tinggal sementara), dan pemulihan sarana prasarana.

Pemerintah daerah dapat mengusulkan anggaran BTT dalam rancangan perubahan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) untuk penanganan banjir. Jika anggaran BTT tidak mencukupi, dapat diambil dari sisa kegiatan, sisa penjadwalan ulang, sisa lelang, atau bahkan uang kas yang tersedia.

Penggunaan BTT untuk penanggulangan bencana harus dilakukan secara akuntabel dan transparan. Pemkab menganggarkan BTT sebesar Rp 2,9 miliar untuk penanganan darurat banjir di desa. Maka Pemkab Tolitoli juga akan menggunakan anggaran BTT untuk percepatan penanganan darurat banjir.

Selain BTT, pemerintah juga dapat mengalokasikan Dana Siap Pakai (DSP) untuk penanganan bencana, yang selalu tersedia dan dicadangkan untuk digunakan saat keadaan darurat. (ham)