Galakkan Pelajar Mengawasi, Hari Dermanto: kata Bertolt Brecht Buta Paling Kejam adalah Buta Politik
NUSSA.CO, SAMARINDA – Bawaslu Kaltim terus gencarkan gerakan pelajar mengawasi dan pendidikan untuk pemilih pemula yang merupakan bagian dari pendidikan politik bagi pelajar sebagai pemilih pemula jelang bergulirnya pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah 27 November mendatang.
“Bawaslu telah melakukan pendidikan untuk pemilih pemula sebanyak 203 Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan (SMA/SMK) dan 38 perguruan tinggi, dengan target intervensi sebanyak 100.000 pelajar/mahasiswa se-kaltim. Serta tokoh agama, tokoh pemuda, Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI dan Polri, Kepala Desa serta Aparatur Desa,” kata Hari Dermanto Ketua Bawaslu Kaltim pada kegiatan Sosialisasi dan Penguatan Kelembagaan yang dilaksanakan Bawaslu Kaltim bertempat di ex Bandara Temindung Samarinda, Sabtu (21/9/2024).
Dihadiri oleh pengawas se- Kaltim, perwakilan Gakkumdu dan masyarakat, Bawaslu mengajak seluruh pengawas untuk terus meningkatkan kualitas pemilu baik dari sisi prosedur juga substansi.
“Mari bersama menengok kembali semangat dari pembentukan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015, UU No 8 Tahun 2015, serta UU No 10 Tahun 2016 yang merupakan sumber hukum pelaksanaan pilkada, yang bisa menjamin UUD dapat terlaksana adalah penyelenggara pemilu, lebih khusus adalah pengawas pemilu yang diberi hak untuk melakukan pengawasan pemilu serta penegakan hukum pemilu,” tambah Hari Dermanto.
Lebih lanjut disampaikan, sebagai pengawas dengan jumlah serta kewenangan yang terbatas, Bawaslu tidak dapat bertindak melakukan penegakan hukum melampaui apa yang dimaksud dalam Undang-Undang.
Untuk itu, Bawaslu Kaltim mendorong Gerakan Pelajar/Mahasiswa Mengawasi, “Bawaslu sadar, ketika hukum tidak cukup dapat menata perilaku subjek yang dimaksud dalam UU untuk memastikan pilkada berjalan demokratis, maka moralitas publik yang kita harapkan menjadi benteng,” lugasnya.
Hari turut mengajak para pengawas untuk nyalakan kesadaran pemilih pemula sebagai pewaris masa depan, “terus kita dengungkan ungkapan satir Bertolt Brecht ‘bahwa buta yang paling buruk adalah buta politik’ orang yang buta politik tak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga murah, harga obat, semuanya bergantung pada keputusan politik,” pungkas Hari Dermanto. (*/Adv)
Tinggalkan Balasan