Loadingtea

NUSSA.CO, SAMARINDA – Di tengah meningkatnya kehadiran perempuan dalam struktur birokrasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, ironi justru muncul dari lembaga legislatif. Keterwakilan perempuan di DPRD Kaltim mengalami penurunan pada periode 2024–2029.

Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Damayanti, menyampaikan keprihatinannya atas fenomena ini. Ia menilai, semangat kesetaraan gender yang mulai tercermin di eksekutif belum sepenuhnya tercapai di parlemen daerah.

“Kalau kita melihat komposisi perempuan di jajaran Pemprov Kaltim saat ini, saya rasa itu luar biasa. Beberapa posisi strategis justru dipegang oleh perempuan,” ujar Damayanti. Rabu, (21/5/2025).

Ia menyebut sejumlah nama perempuan yang kini memegang jabatan penting di birokrasi, antara lain Sri Wahyuni sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim, Nurhayati Usman sebagai Sekretaris DPRD Kaltim, serta para pimpinan rumah sakit seperti dr. Indah Puspitasari, Pelaksana Tugas Direktur RSUD Abdoel Wahab Sjahranie sekaligus Kepala RSJD Atma Husada Mahakam, dan drg. Shanty Sintessa Wulaningrum di RS Mata.

“Bu Sri Wahyuni sebagai Sekdaprov, itu jabatan tertinggi dalam birokrasi provinsi. Itu menunjukkan perempuan bisa dipercaya, bisa memimpin, dan bisa memberi warna di pemerintahan,” ujarnya.

Namun, lanjut Damayanti, kondisi tersebut tidak sejalan dengan representasi perempuan di lembaga legislatif. Jika pada periode 2019–2024 terdapat delapan legislator perempuan di DPRD Kaltim, jumlah itu kini berkurang menjadi tujuh.

“Khusus di Dapil Balikpapan, sebelumnya ada dua legislator perempuan. Tapi sekarang hanya satu yang lolos. Sendirian,” ucapnya.

Menurut Damayanti, penurunan ini bukan sekadar angka. Ia memandangnya sebagai tantangan besar dalam menjaga suara dan perspektif perempuan dalam proses legislasi dan pengambilan kebijakan.

“Suara perempuan di legislatif jadi kurang gaung. Padahal kita tahu, banyak isu strategis—kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial—yang membutuhkan perspektif perempuan,” ungkapnya.

Meski begitu, Damayanti tetap memberikan apresiasi kepada tujuh legislator perempuan yang terpilih kembali. Ia menyebut keberhasilan mereka sebagai bentuk kepercayaan publik yang tidak mudah diraih.

“Saya tetap apresiasi. Ini bukan hal yang mudah. Mereka mendapat kepercayaan dari masyarakat, dari keluarga, dari suami. Itu bukan perjuangan ringan,” tuturnya.

Ia berharap, para legislator perempuan yang ada saat ini mampu saling menguatkan dan menunjukkan kapasitas, apa pun latar belakang mereka.

“Sebagian mungkin masih tahap belajar, karena berasal dari latar belakang berbeda. Tapi ini adalah kesempatan untuk bertumbuh. Semoga ke depan bisa lebih banyak lagi perempuan yang terjun ke dunia politik dan benar-benar membawa aspirasi perempuan,” harapnya optimistis.

Sebagai bagian dari Komisi IV yang membidangi urusan kesehatan, pendidikan, dan sosial, Damayanti menegaskan komitmennya untuk terus menyuarakan kebutuhan perempuan dan anak di Kalimantan Timur.

“Jumlah bukan segalanya, tapi kita tidak bisa menutup mata bahwa semakin banyak perempuan di parlemen, semakin kuat pula keberpihakan pada isu-isu yang menyangkut separuh populasi bangsa ini,” pungkas Damayanti. (ADV)