Loadingtea

NUSSA.CO, SAMARINDA – Anggota DPRD Kalimantan Timur, Sigit Wibowo, menyoroti lemahnya pengelolaan sektor pertanian di daerah, yang menurutnya belum berjalan maksimal karena masih didominasi pola tradisional dan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang siap menjalankan pertanian modern.

“Masih menggunakan tenaga manusia. Jadi ketika mengandalkan tenaga tradisional, tentu tidak mampu maksimal. Keinginan besar untuk bertani juga masih rendah, terutama di Kaltim,” ucap Sigit. Rabu, (30/4/2025).

Ia menjelaskan bahwa rendahnya produktivitas sektor pertanian di Kaltim membuat daerah ini masih bergantung pada pasokan dari provinsi lain, seperti Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Sulawesi.

Menurut legislator Partai Amanat Nasional itu, kondisi ini harus segera diatasi, terutama menjelang kehadiran Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang akan meningkatkan kebutuhan logistik secara signifikan.

“Kaltim masih bergantung pada daerah lain seperti Kalsel, NTT, NTB hingga Sulawesi. Oleh sebab itu ruang pertanian harus disesuaikan, terlebih lagi kehadiran IKN,” ujarnya.

Sigit menilai solusi strategis jangka pendek dapat dilakukan dengan berkolaborasi bersama Kementerian Transmigrasi melalui program pengiriman tenaga kerja dari luar daerah untuk membantu pengelolaan lahan-lahan tidur di Kaltim.

Ia juga menyinggung adanya kunjungan dari pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan ke Kalimantan Timur, dalam rangka studi banding dan penyesuaian tata ruang terkait pembangunan IKN.

“Untuk kebutuhan pangan, kita saat ini masih bergantung. Tapi kalau pengusaha Kaltim mau bergerak di industri pertanian seperti menanam padi, ubi, cokelat, dan lainnya dengan menggunakan mesin, hasilnya tentu akan berbeda,” tutupnya. (ADV)