Loadingtea

Dijerat UU Perlindungan Anak, Terancam 15 Tahun Penjara

NUSSA.CO, TOLITOLI – Entah setan apa yang bersarang di otak Nasri Ishak (50) atau akrab disapa Tete Kem, warga Dusun Kuala, Desa Galumpang, sampai nekat menyetubuhi gadis disabilitas berusia 12 tahun, sebut saja Melati (bukan nama sebenarnya).

Usai melampiaskan nafsu bejatnya pada pertengahan Oktober lalu, pengusaha walet itu kembali konak usai “menaiki” Mawar pada 5 November 2023, dan aksinya terbongkar sepekan kemudian, setelah polisi menerima laporan orangtua korban pada 11 November 2023. Dari laporan tersebut Polres Tolitoli langsung bergerak cepat dan berhasil meringkus pelaku berikut sejumlah barang bukti yang ada.

Kapolres Tolitoli AKBP Bambang Herkamto SH didampingi Kasi Humas Iptu Budi Atmodjo menjelaskan, Tete Kem menyetubuhi Mawar sebanyak 2 kali, pada kejadian pertama korban tidak mengingat persis hari dan tanggal, namun dilakukan sekitar bulan Oktober. Saat itu korban sedang bermain di area rumah pelaku. Usai mengamati sekelilingnya, pelaku kemudian menarik korban masuk ke dalam rumah. Karena rumah sepi, pelaku pun leluasa beraksi.

Nah, Pada kejadian kedua, Minggu (05/11/2023) sekira pukul 10.00 Wita di Dusun Kuala, saat itu Melati sedang bermain, sedangkan pelaku berada di rumah walet miliknya, lalu memanggil Melati menuju ke rumah walet untuk bekerja mengamplas dinding, setelah itu diupah Rp 20.000.

Tidak sampai di situ, Tete Kem rupanya kembali bernafsu dan mengajak paksa Melati untuk melakukan hubungan badan dan memberikan isyarat kode porno. Selesai melakukan aksi bejatnya, Tete Kem kemudian memberikan sejumlah uang dan mengancam korban tutup mulut alias tidak memberitahukan kepada siapapun, termasuk ke orangtua korban.

BEJAT : Tete Kem saat menjani pemeriksaan di Polres Tolitoli. (dok)

Aksi bejat Tete Kem terbongkar setelah tetangga pemilik warung curiga dengan Melati yang saat itu belanja dan kerap membawa uang dengan nilai yang lebih besar dari biasanya, Rp 50.000. Selain itu, orangtua korban juga melihat ada bercak darah di celana dalam Melati. Kesimpulannya, dari sejumlah kecurigaan dan keterangan para saksi, orangtua korban lantas melaporkan perihal ini ke polisi.

Dalam kasus ini, polisi menjerat pelaku dengan Pasal 82 ayat (1) Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Tentang perubahan atas UU RI No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana diubah dengan UU RI No 17 tahun 2016 tentang Penetapan Perpu RI No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Atau Pasal 81 ayat (2) Undang-undang RI No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, sebagaimana diubah dengan Undang-undang No. 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perpu RI No. 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Dengan ancaman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara, atau denda Rp 15 miliar.

Selain menangkap pelaku, polisi juga mengamankan barang bukti berupa kaos, celana pendek, cawat serta barang bukti terkait. (ham)